Suzuki
22 July, 2019

Salah satu alasan Uni Eropa berniat melarang penggunaan minyak sawit untuk biodiesel adalah sustainability. Salah satu indikatornya adalah jejak karbon (carbon foot print). Kelapa sawit dianggap menimbulkan jejak karbon yang banyak.

Salah satu yang disorot dalam jejak karbon ini adalah pemupukan. Pupuk merupakan input yang paling banyak digunakan dalam budidaya kelapa sawit dimana 60% biaya berasal dari sini.

“Untuk mengantisipasi masalah jejak karbon ini kami dari Yara sudah menyediakan pupuk yang ramah lingkungan. Mulai dari proses produksi dan ending product aplikasi jejak karbonnya sangat rendah. Yara mengembangkan dan menerapkan catalyst technology dari pabrik Nitric Acidnya sehingga dapat menurunkan emis N20 sebanyak 90%. Hal ini menyebabkan produk Yara diantaranya NPK YaraMila ®PALMAE® rendah jejak karbonnya,” kata Tessa, agronomis PT Yara Indonesia.

Manfaat lain dari penggunaan pupuk NPK YaraMila ®PALMAE® adalah tidak membuat pH tanah drop atau menurunkan pH tanah jika dibandingkan dengan sumber pupuk nitrogen yang banyak digunakan saat ini adalah Urea, ZA dan NPK yang berbasis N Urea dan ZA. Semua produk NPK Yara adalah Nitrat base yang merupakan kombinasi ammonium nitrat.

“Seperti kita ketahui aplikasi ZA, Urea atau NPK yang mengandung urea dan Za akan lebih mengasamkan tanah dengan ZA sebagai peringkat pertama penyumbang ion H+ terbesar yang lebih mengasamkan tanah,” katanya.

Survei di beberapa perkebunan kelapa sawit menunjukkan tanahnya sudah banyak yang asam karena aplikasi kedua jenis pupuk ini atau memang secara alamiah bahan induk tanahnya sudah asam dari asalnya. Akibatnya perusahaan perkebunan atau petani sawit harus memberikan ekstra input lain yaitu dolomit untuk menaikkan pH dan sumber hara Mg dan S.

Efek tanah asam juga akan menghambat proses perubahan N-Urea menjadi bentuk NH4 dan NO3 karena bakteri menjadi lebih tidak aktif mengkonversi dalam kondisi tanah asam sehingga menimbulkan efek lainnya seperti residu N yang tidak terserap sehingga tercuci (leaching) dan menyebabkan pemupukan menjadi tidak efektif.