Suzuki
27 February, 2019

Indonesia adalah surga kelapa. Data Ditjenbun menunjukkan luas kelapa 3.653.167 ha dengan produksi tahun 2017 2.870.739 ton. Tahun 2017 nilai ekspornya USD1,37 miliar dengan ekspor terbesar dalam bentuk minyak kelapa mentah (CCO), minyak kelapa, kelapa segar dan bungkil kelapa.

“Sementara itu dikepala saya ada formula 1.600 produk yang bisa dibuat dari kelapa. Sampai sekarang lewat koperasi di berbagai daerah Indonesia, kami sudah menghasilkan 150 produk turunan kelapa dan sebagian sudah diekspor ke berbagai negara. Prinsip pengembangan kelapa saya lakukan dengan sistim PELAJU (Petik-Olah-Jual-Untung) yang terbukti mampu meningkatkan kesejahteraan masyarakat,” kata Wisnu Gardjito, pendiri komunitas The Green Coco Island (TGCI) dalam perbincangan dengan Perkebunannews.com di markas TGCI di Depok, Jabar.

TGCI merupakan komunitas penghasil produk olahan kelapa yang tersebar di seluruh wilayah Indonesia seperti TGCI NTB, Halmahera, Raja Ampat, Riau, Sumatera Barat, Kalsel dan lain-lain. Kelapa menjadi lokomotif pengembangan agroindustri yang tersebar di seluruh Indonesia yang terkait dengan komoditas lain yang spesifik ada di daerah tersebut.

Di tiap provinsi dibuat AEC ( Agroindustrial Export Cluster). Lewat AEC ini dibentuklah exporting village yaitu desa yang mampu melakukan ekspor. Bagi Wisnu, berbisnis pertanian tidak bisa bahan baku diambil dari desa, lalu diolah di kota dan kembali ke desa dalam bentuk produk akhir untuk dikonsumsi, atau untuk diekspor. Bagi Wisnu yang menerapkan FMS (Flexible Manifacturing System) lebih mudah bila bahan baku yang diproduksi di desa, diproses di desa baru selanjutnya dijual dari desa tersebut juga.

Basis AEC berada di provinsi. Saat ini AEC yang sudah terbentuk diantaranya adalah AEC Aceh, Riau, Lampung, Sumbar, Sumsel, Kalteng, Kalsel, Kaltara, Banten, Jabar, Jateng, Jatim, Sulut, Sulsel, Sultra, Sulbar, Gorontalo, Maluku Utara, Papua Barat dan NTB serta NTT . Di bawah provinsi, terdapat cluster kabupaten dimana dibentuk unit-unit usaha dalam bentuk KDA (Koperasi Desa Agro). Lalu unit -unit cluster ini membentuk Perseroan Terbatas yang merupakan Badan Usaha Milik Masyarakat (PT BUMM).

PT BUMM ini bukanlah milik perorangan, namun terdiri dari tiga komponen stakeholder: yaitu masyarakat (KDA), PT. The Improvement Institute sebagai desainer AEC dan pemecah masalah yang dipimpin Wisnu sendiri, dan CV. Sumber Rejeki (Vipie) sebagai penghela lahirnya UKM – UKM yang berbasis home industri.

Investasi pengolahan industri kelapa sengaja dimulai dari usaha kecil sebab kalau langsung dilakukan dengan skala besar tidak semua orang mampu khususnya petani kelapa. Misalnya, team The Improvement Institute dan CV. Sumber Rejeki melatih ibu-ibu rumah tangga dan pemuda yang masih menganggur untuk membuat sirup kelapa dan 10 produk turunan lain yang merupakan unit usaha rumah tangga dan mereka bergabung dalam Koperasi Desa Agro setempat. Saat ini sudah banyak Koperasi Desa agro di bawah naungan TGCI yang berdiri dan beroperasi. Diharapkan peran dan bantuan pemerintah serta pihak-pihak yang berwenang agar pengembangan agrobisnis kelapa ini dapat berkembang pesat.