Suzuki
22 June, 2018

Dunia perkopian Indonesia akhir-akhir ini sangat dinamis sekali dengan trend yang sangat bagus. Sektor konsumsi tumbuh dengan pesat, mutu juga lebih dihargai. Masalah adalah suply karena produktivitas rendah.

“Ini kenyataan yang kita hadapi sekarang. Dalam kondisi seperti ini maka produktivitas dan produksi harus ditingkatkan lewat intensifikasi. Konsumsi dalam negeri dan mutu tetap harus dijaga. Butuh waktu lama untuk menyadarkan masyarakat soal mutu,” kata Surip Mawardi, ahli kopi kepada Perkebunannews.com.

Masih ada petani kopi yang tingkat sosial ekonominya rendah ,dengan tingkat kepemilikan lahan sempit dan pengetahuan yang masih terbatas. Pada sisi lain banyak juga petani kopi yang sudah sangat maju seperti petani kopi di Bondowoso (Jatim) dan Gayo (NAD).

Ada keprihatinan juga generasi muda enggan bertani tetapi di beberapa daerah seperti Sumatera Utara dan Gayo banyak anak muda mulai bangkit bertani. “ Beberapa lulusan perguruan tinggi kembali ke desa untuk bertani kopi. Ini sangat menggembirakan dan harus lebih banyak lagi supaya budidaya kopi ditangani oleh orang yang lebih kompeten,” katanya.

Perhatian pemerintah yang sangat tinggi kepada kopi juga sangat bagus. Beberapa kementerian saat ini punya program untuk mendorong pertumbuhan kopi seperti Kementerian Pertanian yang membagikan benih kopi, Kementerian Perdagangan yang mempromosikan kopi di pameran internasional, Kementerian Perindustrian juga mendorong dan Kemenko Perekonomian yang menyusun road map kopi.

Pertumbuhan kopi dalam negeri juga sangat bagus terutama kopi specialty. Minum kopi sudah menjadi gaya hidup. Banyak anak muda di perkotan yang belajar jadi barista. Tingginya minat komsumsi kopi di dalam negeri ditandai dengan impor tahun 2017 yang lebih besar.

“Saya tidak tahu persis angkanya tetapi tahun 2017 impor kopi lumayan meningkat. Hal ini menunjukkan permintaan yang meningkat. Keuntungan Indonesia adalah kualitas yang lebih tinggi dibanding negara lain,” katanya.

Kopi robusta Indonesia harganya lebih tinggi USD1/kg dibanding dengan Vietnam yang unggul dalam produktivitas dan produksi. Sedang harga kopi Arabika dunia di bursa New York saat ini USD2,5/kg. Padahal di Gayo, harga kopi asalan dengan kadar air dan defect masih 15% harganya Rp78.000/kg atau USD6.

“Harga premium yang belum grade 1 saja sudah seperti itu. Apalagi yang grade 1 sudah diatas USD7/kg. Hal ini menunjukkan harga premium kopi Gayo jauh lebih besar ketimbang harga kopinya dengan selisih sampai USD4,5/kg. Penyebabnya adalah karakter khas yang tidak dipunyai kopi jenis lain,” katanya.