18 September, 2019

Kebakaran lahan dan hutan pada tahun ini penyebab utamanya adalah kekeringan yang sangat ekstrim.Beberapa bulan yang lalu BKMG sudah mengingatkan akan datangnya El Nino dengan insensitas tinggi. Dari situlah seharusnya pemerintah menyiapkan diri bekerjasama dengan masyarakat untuk mengantisipasinya.

“Saya tidak tahu upaya yang sudah dilakukan pemerintan baik pusat, provinsi dan kabupaten/kota untuk mengantisipasi el nino yang bisa memicu kebakaran lahan. Faktanya sekarang terjadi kebakaran di mana-mana dan petani kelapa sawit menjadi salah satu pihak yang disalahkan,” kata Setiono, Ketua Umum Asosiasi Petani Kelapa Sawit PIR Indonesia.

Tuduhan itu sama sekali tidak adil dan merupakan bentuk diskrimanasi terhadap petani kelapa sawit. “Tidak mungkin kebun yang sudah dibangun susah payah dengan biaya yang tidak sedikit sengaja dibakar,” katanya.

Melihat kondisi di lapangan kata petani yang tinggal di Siak, Riau ini, maka banyak pemicu kebakaran. Kemarau panjang sekarang ini menyebabkan banyak terbentuknya kantong-kantong air di dalam hutan yang menjadi tempat berkumpulnya ikan . Banyak pemancing yang datang dan bisa saja mereka membuang puntung rokok sehingga memicu kebakaran. Pengambil madu di hutan juga menggunakan obor dan bisa saja nyala api obornya memicu kebakaran.

Kebakaran lahan dan hutan tidak terjadi di Sumatera dan Kalimantan saja, tetapi di Jawa yang tidak ada sawit. Bahkan di luar negeri seperti Amazon dan Amerika Serikat juga ada kebakaran lahan dan hutan.

“Banyak petani non sawit yang membuka lahan dengan cara membakar, contohnya petani padi. Tetapi dalam tayangan-tayangan di televisi kenapa selalu yang ditimbulkan selesai kebakaran muncul sawit. Ini sama sekali tidak adil bagi petani sawit,” katanya.

Ada juga statement bahwa sehabis kebakaran luas lahan kelapa sawit bertambah 400.000 ha. Data ini sama sekali tidak benar. Bisa diperiksa silang dengan data penjualan kecambah dari produsen benih sawit. Setiap pembelian kecambah sawit petani harus menyertakan KTP, KK dan surat tanah jadi bisa cek apakah benih itu ditanam di lahan yang terbakar.

Kedepan Setiono minta bila ada peringatan kekeringan dari BKMG maka semua pihak yaitu petani, perusahaan perkebunan dan pemerintah harus bekerjasama mempersiapkan diri untuk mencegah kebakaran.

Data Badan Nasional Penanganan Bencana (BNPB) tanggal 18 September sampai pukul 09:00 luas lahan dan hutan yang terbakar adalah 328.724 ha. Data kebakaran hutan dan lahan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan tahun 2014-2018 adalah 2014 44.411,36 ha; 2015 2.611.411,4 ha; 2016 438.363,19 ha; 2017 165.483,92 ha; 2018 510.564,21 ha.