Suzuki
9 March, 2019

Bogor – Simbiosis mutualisme, irulah yang seharusnya dilakukan oleh pemerintah dengan pelau usaha guna mendorong pemesaran produk-produk perkebunan.

“Kita perlu melakukan sinergi untuk mendorong hilirisasi produk perkebunan, maka dari itu kita susun kebijakan, strategi, dan langkah operasional komoditas perkebunan strategis, khususnya pemasaran,” kata Dedi Junaedi Direktur Pengolahan dan Pemasaran Hasil Perkebunan, di Bogor.

Sebab, menurut Dedi, salah satu subsektor perkebunan telah memmbuktikan diri surplus dalam neraca perdagangan sektor pertanian. Meski begitu tidak lepas dari beberapa kendala dalam pengembangan komoditi dan daya saing, baik secara internal ataupun domestik

“Untuk itu, diperlukan upaya secara bersama-sama untuk mengatasi permasalahan tersebut melalui perencanaan penyusunan rencana strategis (Renstra) Perkebunan 2020 – 2024,” terag Dedi.

Sementara itu Dr. Banun Harpini, Staf Ahli Bidang Perdagangan dan Hubungan Internasional memberikan masukan bahwa sub sektor perkebunan sebaiknya berfokus pada kendala eksternal, pasar internasional, seperti tuntutan negara importir terhadap sertifikasi produk, kampanye negatif, tuduhan praktik dumping, dan sebagainya.

“Akibatnya kinerja ekspor menurun, hal tersebut tidaklah semata-mata menunjukkan penurunan kinerja,” himbau Banun.

Disisi lain, Banun menerangkan, bahwa kinerja sub sektor perkebunan tidak hanya tercermin dari aspek pemasaran internasional ataupun ekspor, tetapi juga dalam hal pemasaran dan pemenuhan kebutuhan dalam negeri, terutama industri pengolahan hasil perkebunan. “Sehingga dalam hal ini perlu menggandeng industri dalam negeri guna penyerapan produksi dalam negeri,” harap Banun. YIN