21 August, 2019

JAKARTA, Perkebunannews.com – Sinar Mas Agribusiness and Food terus meningkatkan kemamputelusuran hingga ke perkebunan (Traceability to Plantation/TTP) untuk pabrik kelapa sawit (PKS) dapat terus meningkat. Ditargetkan untuk pemasok pihak ketiga tingkat kemampuantelusuran mencapai 100 persen pada 2020.

“Pada akhir 2018, sudah 62 persen rantai pasok kelapa sawit perusahaan telah sepenuhnya dapat ditelusuri hingga ke tempat asal buah sawit. Di tahun ini kita targetkan bisa sampai 80 persen, sehingga di 2020 kemamputelusurannya bisa mencapai 100 persen,” kata Managing Director Sinar Mas Agribusiness and Food Agus Purnomo pada pemaparan capaian keberlanjutan industri kelapa sawit tahun 2018 di Jakarta, Selasa (20/8).

Agus mengatakan, perusahaan pada 2017 sebetulnya telah berhasil mencatat 100 persen kemamputelusuran untuk PKS miliknya sendiri. Perusahaan juga telah bekerja sama dengan pemasok pihak ketiga dalam rangka memajukan TTP untuk PKS pemasok yang ditargetkan mencapai 100 persen di 2020.

Menurut Agus, pengembangan skema kemamputelusuran ini merupakan salah satu inisiatif perusahaan untuk membuktikan kalau industri kelapa sawit yang dijalankan Sinar Mas Agribusiness and Food selalu memperhatikan prinsip-prinsip keberlanjutan. Hal ini sekaligus untuk menjawab tudingan negatif yang kerap diarahkan pada industri kelapa sawit nasional yang dianggap merusak.

Dengan kemamputelusuran ini, lanjut Agus, konsumen bisa mengetahui sumber atau asal dari minyak yang dibelinya hingga ke tempat asal buah sawit. Nantinya untuk menelusuri asal dari minyak tersebut bisa dilakukan melalui perangkat mobile yang tengah dipesiapkan oleh Sinar Mas Agribusiness and Food.

“Kemamputelusuran memegang kunci dalam upaya perusahaan yang lebih luas untuk membantu pemasok menuju arah yang lebih baik. Melalui pelibatan peran yang lebih mendalam, kami mendukung dan melatih pemasok untuk meningkatkan dan menerapkan praktik-praktik yang lebih baik,” kata Agus.

Sinar Mas Agribusiness and Food juga mencatatkan sejumlah kemajuan pada upaya perencanaan konservasi bersama masyarakat. Agus menyampaikan, hingga saat ini lebih dari 20 desa telah ambil bagian dalam perencanaan Konservasi Partisipatif dengan 13 desa di antaranya berkomitmen untuk melindungi kawasan hutan seluas lebih dari 7.000 hektar. Ini di luar upaya pelestarian perusahaan untuk kawasan konservasi seluas 72.000 hektar.

Untuk mengantisipasi terjadinya kebakaran hutan dan lahan, perusahaan juga berkolaborasi dengan masyarakat melalui program Desa Makmur Peduli Api (DMPA). Program ini bertujuan untuk mencegah terjadinya Karhutla, melakukan konservasi hutan dan meningkatkan taraf kesejahteraan masyarakat melalui kegiatan Pertanian Ekologis Terpadu (PET). Hingga saat ini sebanyak 32 desa yang tersebar di Jambi, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, Riau dan Bangka telah bergabung dalam program tersebut. (YR)