4 September, 2019

Sertifikasi baik ISPO, RSPO dan ISCC bagi PTPN V adalah upaya untuk meraih nilai tambah. “Terbukti di tengah harga turun seperti sekarang dengan sertifikat ISCC kami mendapat harga premium,” kata Jatmiko K Santosa, Dirut PTPN V.

Sejak awal PTPN V sudah punya komitmen untuk mendapat semua sertifikat sustainable kelapa sawit. Sertifikat ISPO didapat pertama kali tahun 2012, RSPO tahun 2016 dan ISCC 2017. Saat ini dari 12 PKS yang dimiliki 100% sudah ISPO, 5 RSPO dan 5 ISCC. Tahun 2020 diharapkan semua PKS sertifikatnya sudah lengkap.

PTPN V menangani proses sertifikasi ini penuh komitmen dan konsistensi. Hal ini dibuktikan dengan adanya penanggung jawab (PIC) sertifikasi di perusahaan mulai dari kantor pusat sampai ke kebun. PIC ini bertanggung jawab semua semua norma pada sertifikasi dipatuhi.’

Saat ini PTPN V sudah 4 kali menjadi tempat pelatihan auditor ISPO dan 2 kali dikunjungi delegasi Uni Eropa untuk melihat secara langsung sustainability kelapa sawit di lapangan. Kebijakan PTPN V ini sejalan dengan kebijakan PTPN III holding yang mewajibkan semua PTPN sawit bersertifikat ISPO, RSPO dan ISCC.

Ciri khas PTPN V adalah 60% buahnya berasal dari petani, baik plasma maupun swadaya. Perlu keahlian khusus dan fleksibiilitas , Good Corporate Governance untuk mendisiplikan sortasi, pembayaran dan lain-lain.

Karena 12 PKS PTPN V sudah bersertifikat ISPO, maka petani plasma dan swadaya yang memasok buah ditargetkan tahun 2021-2022 susah bersertifikat. “Perlu usaha yang luar biasa untuk menyiapkan mereka, terutama manajemen petani swadaya, supaya bisa bersertifikat ISPO. Kita sudah bekerjasama dengan 5 lembaga baik nasional dan internasional, juga dengan Unilever untuk sertifikasi ISPO petani ini,” katanya.