Suzuki
25 July, 2019

Serangan penyakit gugur daun yang diakibatkan oleh cendawan Pestalotiopsis sp merupakan warning bagi industri barang jadi karet yang selama ini menikmati harga karet rendah. “Ini merupakan pembelajaran bagi mereka bahwa kalau industrinya mau sustainable ada harga yang harus dibayar. Sustainable bukan hanya dibicarakan saja,” kata Moenardji Soedargo, Ketua Umum Gabungan Produsen Karet Indonesia.

“Kalau mereka diam saja ongkosnya terlalu besar bila satu negara produsen tidak lagi berproduksi. GAPKINDO adalah salah komponen dalam rantai pasok karet tetapi posisi lemah dalam penentuan harga. Pembeli yaitu industri bahan jadi karet merupakan konsumen ujung yang bisa menentukan harga karet,” katanya.

Harga turun terlalu lama dan petani situasinya sangat berat merupakan kenyataan. Dalam kondisi itu hidup saja mereka kesulitan, apalagi untuk merawat pohon karetnya sehingga terserang penyakit ini. Padahal dunia masih membutuhkan karet.

Moenardji tidak percaya bahwa turunnya harga karet akibat ekonomi dunia melemah, permintaan otomotif turun sehingga penjualan ban ke pabrik otomotif turun. “Diluar itu masih banyak mobil di jalan yang tetap butuh ganti ban. Apalagi sekarang stok karet dunia turun, produksi turun tetapi harga tetap rendah. Ini anomali,” katanya.

Selama Januari-Juni 2019 ekspor karet Indonesia turun 200.000 ton. Ini jumlah yang besar dan belum pernah terjadi sebelumnya. Penyakit ini menurunkan produksi sampai 15% atau 540.000 ton, ini jumlah yang tidak main-main. Pembeli harus turun tangan menaikkan harga supaya kondisi petani membaik.

.