Suzuki
23 April, 2019

Prospek minyak nabati di dunia ini masih bagus. Bahkan tahun 2045 diperkirakan permintaan oil seed akan lebih besar dari pasokan. Masalahnya siapa yang bisa memanfaatkan situasi tahun 2045 ini apakah minyak sawit, kedelai, sunflower, rape seed. Bungaran Saragih, Guru Besar Agribisnis IPB , Menteri Pertanian tahun 2000-2004 menyatakan hal ini.

Prospek bagus minyak nabati ini dalam jangka panjang, tetapi dalam jangka pendek yang terjadi sekarang adalah over suply. Suply jauh lebih besar dari demand.

“Penyebabnya Indonesia, bukan Malaysia, Afrika atau negara-negara Amerika Latin. Kita lebih dulu sukses karena sawit berkembang pesat sehingga suply meningkat. Penyebabnya adalah luas lahan kelapa sawit petani meningkat dengan cepat,” katanya.

Masalahnya adalah peningkatan luas lahan petani ini tidak diikuti dengan peningkatan produktivitas dan kualitas. Kelapa sawit rakyat sulit mengikuti persyaratan yang diminta masyarakat global.

“ Kita korban sukses kita sendiri. Kalau ini tidak selesaikan maka prospek 2045 ini tidak bisa kita tangkap. Produktivitas sawit nasional semakin turun karena banyak kebun tua, rusak dan serangan ganoderma. Selain itu perkebunan sawit rakyat banyak berada di lahan marginal sehingga produktivitas rendah. Secara umum perkebunan besar produktivitas naik sedikit tetapi karena produktivitas kebun rakyat rendah maka produktivitas nasional jadi rendah,” katanya.

Di sisi lain kedelai, rape seed dan sun flower dalam lima tahun terkakhir produktivitasnya naik dengan pesat. “Saya sudah baca hasil riset Eropa, Amerika Serikat dan Amerika Latin. Produktivitasnya naik dengan pesat. Kedelai tidak lagi 0,9 ton minyak perha. Itu data lama. Hasil riset tidak mereka publikasikan tetapi diam-diam saja,” katanya.

Dulu sawit selalu dibanggakan sebagai minyak nabati paling efisien karena produktivitas perhanya lebih tinggi dibanding minyak nabati lain. “Itu data lama. Sekarang tidak lagi. Karena itu PR kita sekarang adalah menyelesaikan masalah rendahnya produktivitas sawit rakyat ini dan bagaimana supaya sustainable sesuai tuntutan masyarakat global baik lewat ISPO dan RSPO,” katanya.

Kalau hal ini tidak bisa diselesaikan maka yang berjaya tahun 2045 adalah kedelai. Sawit akan bernasib sama seperti karet yang dulu produsen nomor satu sekarang jadi nomor dua.