Suzuki
4 April, 2019

Medan – Sekitar dua ribuan petani sawit dari seluruh Indonesia akan memeriahkan Jambore Petani Sawit Nasional yang diadakan di Gedung MICC Jakan Gagak Hitam Nomor.1, Medan, Kamis (4/4/2019). Dalam Jambore Petani Sawit tersebut dipastikan tidak ada deklarasi calon Presiden (Capres).

Ketua Umum DPP SAMADE (Sawitku Masa Depanku) Tolen Ketaren menyatakan hal tersebut disela-sela acara Jambore Petani Sawit.

“Kami pastikan tidak ada deklarasi dukung pasangam calon (paslon) capres-cawapres atau caleg tertentu dapam acara jambore tersebut. Ini murni jambore, tidak ada unsurdeklarasi politis di dalamnya. Tidak ada deklarasi apapun di acara jambore ini,” ujar Tolen.

Lebih lanjut, menurut Tolen, jambore ini sudah direncanakan jauh-jauh hari, tepatnya di semester pertama tahun 2018. Karena itu, ia sangat heran jika ada sejumlah pihak yang mencoba menghembuskan isu atau menggiring opini kalau jambore ini untuk dukung pasangan capres capres-cawapres tertentu, parpol atau atau caleg tertentu.

Pihaknya sangat selektif, bahkan mewantau dan mengawasi kemungkinan adanya bendera parpol, caleg, atau capres tertentu di dalam dan sekita pelaksanaan acara jambore.

Artinya tujuan dari jambore petani sawit tersebut untuk menyatukan para petani sawit di seluruh Indonesia sekaligus menyemangati mereka walau saat ini harga tandan buah segar (TBS) kembali fluktuatif.

“Kami, melalui acara jambore ini, ingin menegaskan bahwa kami bersatu memperjuangkan nasib kami selaku petani sawit. Dan jangan coba-coba menggiring kami para petani sawit ini ke dalam politik praktis,” tegas Tolen.

Hal senada dingkapkan Alvian, Ketua Umum DPP APKASINDO yang baru terpilih di Munas ke IV bahwa melalui Jambore Petani Sawit Indonesia 2019 ini diharapkan bisa menyatukan petani dan jangan mempolitisasi petani.

“Kami berharap suara petani bisa satu dan jangan memanfaatkan petani untuk kepentingan golongan atau bahkan untuk pribadi,” harap Alvian.

Oleh karena itu, Alvian berharap program Peremajaan Sawit Rakyat (PSR) bisa berjalan. Ini penting mengingat tidak sedikit lahan petani yang sudah tua dan tidak sedikit pula yang salah dalam memilih benih.

“melihat pentingnya program PSR tersebut maka kami APKASINDO sangat mendukung program PSR,” papar Alvian.

Alhasil, Alvian berharap dengan adanya program PSR tersebut maka produktivitas kebun milik petani bisa meningkat 2 kali lipat, dari yang biasanya. Jika produktivitas TBS petani hanya sekitar 10 – 15 ton per hektar pertahun, diharpkan bisa meningkat minimal 30 ton per hektarper tahun.

“Atas dasaritulah kita dukung dan akan kami kawal karena petani sangat terbantu sekali,” tutur Alvian.
Sebab menurut Alvian bukan hanya pendanaan yang di danai dari Badan Pengelola Dana Perkebunan Kelapa Sawit BPDP-KS) saja tapi juga petani sangat terbantu teknologi budidayanya. Diantaranya mulai dari jaminan mutu benih bibit sampai dengan perawatan dan peneliharaan serta kepastian hasil panen petani oleh pabrik kelapa sawit (PKS) yang bermitra.

Itu karena petani tidak hanya dibantu dana tapi juga dibantu membuat koperasi sehingga petani bisa bermitra dengan perusahaan selaku pemilik PKS disekitar areal kebun. “Sehingga kami berharap seteah dilaksanakan PSR bukan hanya produktivitasnya saja yang meningkat. Tapi juga jaminan harga sehingga otomatis penadapatannya pun meningkat,” pungkas Alvian.