15 August, 2019

Bandung – Tidak ada yang tidak mungkin jika mau berusaha. Termasuk diantaranya untuk dapat menggerakkan sekto Usaha Mikro, Kecil dan Menengah (UMKM) dan melestarikan budaya melinting tembakau.

Hal tersebut diungkapkan Nedi Sopian, pemilik Paperka kepada perkebunannews, di Bandung, Jawa Barat.

Nama Paperka itu sendiri, menurut Nedi yaitu diambil dari nama paguyuban perokok kawung. “Jadi, saya ingin mengembalikan budaya merokok kawung yang kini mulai memudar kembali membumi, khususnya kepada anak-anak muda,” kata Nedi yang asli keturunan Sunda.

Seperti diketahui, menurut Nedi saat ini merokok linting hanya dilakukan oleh kaum orang tua, atau bahkan usia lanjut. Hal ini sangat disayangkan. Sebab ada banyak manfaat dari rokok linting, diantaranya kebersamaan.

“Terbukti dengan merokok linting maka terjadi interaksi dengan sesama. Hal ini berbeda dengan merokok biasa atau bahkan menggunakan vape,” kata ayah dengan dua orang anak.

Namun, Nedi mengakui, untuk mengedukasi anak muda kembali ke rokok linting itu tidaklah mudah. Tapi inikan budaya, jadi kita hanya ingin mengembalikan budaya bahwa dahulu itu merokok harus melinting.

“Kita ingin mengembalikan budaya, kalau mau merokok harus melinting, itu saja,” kata Nedi yang juga budayawan Jawa Barat.

Disisi lain, Nedi mengakui, memang awalnya di tahun 2017 kemarin untuk memproduksi Paperka hanya membutuhkan 500 gram. Tapi kini telah mencapai antara 500 kiligram – 1.000 kilogram atau 1 ton.

Ini artinya permintaan rokok linting naik secara sigbifikan setiap tahunnya. Bahkan permintaan untuk menjadi reseller pun meningkat. Sehingga dengan begitu rokok linting telah berhasil menggerakan UMKM di daerah-daerah.

“Terbukti, saat ini ada 19 reseller yaitu Kuningan, Tasik, Tanggerang (BSD), Purwakrta, Subang, Sumedang, Tanjung Sari, Garut, Soerang, Banjaran, Jakarta, Bekasi. Balikpapan, Samarinda, Lampung, Dumai (Riau), Pariaman (Sumatera Barat, dan Denpasar (Bali).

“Rencananya kita juga akan masuk pasar ekspor. Sebab kita sendiri juga sudah punya link untuk pemasaran ke luar negeri,” pungkas Nedi. YIN