Suzuki

YOGYAKARTA, Perkebunannews.com – Rendahnya tingkat produktivitas menjadi titik lemahnya daya saing perkebunan rakyat. Padahal dari segi luasan dan volumen, perkebunan rakyat mencapai 63 persen. Efisiensi menjadi kunci mendorong daya saing. Demikian juga dengan ketersediaan benih.

Demikian dikatakan Direktur Jenderal Perkebunan, Kementerian Pertanian, Kasdi Subagyono dalam pembukaan rapat kerja nasional (Rakernas) Gabungan Asosiasi Petani Perkebunan Indonesia (Gapperindo) di Yogyakarta, Jumat (1/3). Hadir dalam kesempatan itu Ketua Umum Badan Eksekutif Gapperindo Agus Pakpahan dan para pengurus lainnya.

Kasdi mengatakan, masalah daya saing seringkali diangkat ke permukaan. Namun banyak hal yang harus diangkat dari daya saing. Salah satu yang tidak pernah diwujudkan secara konkrit adalah soal efisiensi. “Jadi tidak dalam konteks kualitas saja,” tukasnya.

Menurut Kasdi, yang paling pelik adalah efisiensi. “Bagaimana kita bisa memproses produksi komoditas perkebunan kita bisa semurah-murahnya supaya kita bisa jual murah. Kalau kita bisa jual murah, itulah daya saing. Karena kita bisa bersaing di pasar global dengan negara-negara lain,” jelasnya.

gapperindo

Kasdi menuturkan, permasalahan yang dihadapi perkebunan rakyat karena rendahnya produktivitas. Padahal perkebunan rakyat dari segi volume dan luasannya lebih besar, namun lemah. Bagaimana menjadi daya saing negara jika komponennya besar namun dalam kondisi lemah.

Dirjen Perkebunan berharap, Rakernas Gapperindo dapat membawa satu momen pada tiga kompen ditambah satu yakni komuniti atau rakyat. “Jadi ada konsep ABG (Asosiasi, Bisnis Government) ditambah C, yakni community. Saya apresiasi tema yang diangkat. Kami dari Ditjen Perkebunan siap mendukung,” ujar Kasdi.

Dalam kesempatan itu juga Gapperindo mengeluarkan deklarasi mengusulkan untuk secepatanya membentuk Kementerian Perkebunan. Hal ini guna terwujudnya kejayaan perkebunan Indonesia dalam mendukung perekonomian Indonesia yang berdaulat, adil dan makmur. (HP/YR)