8 August, 2019

Dunia saat ini sedang memasuki revolusi industri 4.0, didalamnya banyak teknologi yang berkembang pesat seperti block chain, drone, artificial intelegence, Internet of things dan robotika. Pertanian yang dibangun adalah presicion farming. Dengan presecion farming maka semua serba tepat, pemupukan, masa tanam, ukuran buah dan lain-lain. “Teknologi memungkinkan semua hal bisa dilaksanakan,” kata Arif Satria, Rektor IPB kepada Perkebunannews.com.

Pemupukan pada kelapa sawit selama ini basisnya adalah kebutuhan tanah dan tanaman dengan analisa tanah dan daun. Sekarang dengan basis satelit dan sensor maka tanpa laboratorium cukup hasil pemotretan lewat satelit bisa diketahui pupuk apa saja yang dibutuhkan dan berapa jumlahnya.

“Cara ini meningkatkan efisiensi, apalagi untuk perkebunan yang 50% biaya produksinya berasal dari pupuk. Efisiensi disamping peningkatan produktivitas dan harga sangat penting untuk meraih keuntungan di bisnis perkebunan. Cara ini menghemat pupuk 15-20%.,”katanya.

Pemupukan 4.0 ini dikembangkan oleh IPB, PTPN 3, PTPN 5 dan PTPN 7. Sistim ini mengolah data dari satelit sentinel oleh aplikasi DSS fertilizer sehingga langsung keluar rekomendasi pemupukan bagi perkebunan sawit tersebut.

Drone yang dipadukan dengan kecerdasan buatan juga dimanfaatkan di perkebunan kelapa sawit untuk memantau ganoderma sehingga bisa terdeteksi dengan mudah, selanjutnya dicari langkah yang tepat untuk mengendalikan. Hal yang sama dilakukan juga untuk memantau keanekaragaman hayati di kebun kelapa sawit.

SDM yang diperlukan dalam revolusi industri 4.0 ini adalah dengan skill yang bagus, bisa memahami logika dan pemanfaatan teknologi. Selain itu perlu soft skill kemampuan berkolaborasi, berpikir kritis, komunikasi serta kretivitas. Empat hal ini sangat penting.

Dalam menghadapi era disrupsi dengan ketidak pastian sangat tinggi maka perlu berkolaborasi dengan orang lain dan dituntut lebih kreatif. “Sepuluh tahun yang lalu tidak ada orang yang tahu siapa Jack Ma. Lima tahun yang lalu tidak ada orang yang tahu apa itu Tokopedia dan Bukalapak. Sekarang mereka jadi leading karena kreatifitas,” katanya.

Perkebunan perlu kreativitas yang dahsyat supaya tidak melulu mengurus core bisnis. Misalnya sawit selama ini hanya penghasil CPO dan PKO saja, padahal sekarang limbahnya bisa menghasilkan gula pengganti tebu. Teknologinya ada di Taiwan , sekarang IPB dan PTPN bekerjasama dengan pemilik teknologi menghasilkan gula generasi 2.

“Kita benar-benar harus berpikir out the box. Limbah sawit misalnya oleh IPB bisa menjadi bahan baku helm. Jadi SDM perkebunan jangan hanya berpikir rutinitas saja,” kata Arif lagi.

Kerjasama antar berbagai ahli sangat penting. Pemupukan 4.0 misalnya melibatkan ahli ilmu tanah, agronomi, kimia, IT, sensor, satelit dan lain-lain. IPB juga sudah mengembangkan Smart Integrated Pest Management dimana ahli hama penyakit bekerjasama dengan ahli IT.

Dalam bidang logistik kelapa sawit IPB juga sudah mengembangkan Agrologistik Sawit 4.0 dengan teknologi block chain untuk meningkatkan efisiensi logistik dan tracebilty. Dengan teknologi ini buyer tahu persis CPO yang dia beli berasal dari perusahaan mana sampai ke lokasi kebunnya.

Penggunaan teknologi 4.0 ini penting karena Jumlah orang bekerja di kebun semakin lama semakin tua, anak- anaknya yang berpendidikan lebih baik tidak mungkin bekerja ditempat dan posisi yang sama. “ Kalau buruh tidak ada dan teknologi belum siap , siapa yang akan mengerjakannya. Karena itu perlu mempercepat transformasi teknologi. Perusahaan seperti PTPN tidak punya pilihan lain. Didalamnya butuh perubahan mind set setiap orang dari atas sampai ke bawa. Mind set bahwa sawit hanya menghasilkan CPO harus diubah.,” katanya.