Suzuki
8 April, 2019

JAKARTA, Perkebunannews.com – Pusat Penelitian Karet telah mengembangkan teknologi penyadapan karet menjadi lebih singkat. Dari penyadapan karet yang biasanya dilakukan dua atau tiga hari sekali menjadi empat atau lima hari sekali sadarp. Sehingga biaya penyadapan di perkebunan karet menjadi lebih efisien.

Direktur Riset dan Pengembangan PT Riset Perkebunan Nusantara (RPN) Gede Wibawa mengatakan, ongkos produksi karet 60 persen berasal dari dari tenaga kerja sadap. Karena biasanya penyadapan itu rekomendasinya setiap dua atau tiga hari sekali. “Dengan teknologi yang kita kembangkan sekarang itu bisa dilakukan setiap empat atau lima hari sekali baru disadap,” ujarnya.

Sehingga satu orang penyadap bisa menyadap karet sekitar 4 – 5 hektar dengan hasil yang sama. “Jadi kita memakai stimulan dan frekuensi tertentu sehingga distribusi atau penggunaan tenaga kerja per hektar menjadi lebih efisien,” jelas Gede.

Gede menyebutkan, produksi karet saat dikisaran 1,5 ton/Ha/per tahun untuk skala perusahaan seperti PT Perkebunan Nusantara. Dengan teknologi penyadapan biaya tenaga kerja bisa menghemat 30 persen. “Di sini hanya sistem sadapnya yang diubah dengan formula stimulan. Jadi di karet lateks tetap keluar, kita tambahkan stimulan seperti chemical,” katanya. (YR)