Suzuki
21 January, 2019

PTPN 8 dengan komoditas utama teh, karet dan sawit yang kondisi harganya tidak terlalu menguntungkan, saat ini yang dilakukan direksi adalah penyelamatan perusahaan. Wahyu, Direktur Utama PTPN 8 menyatakan hal ini pada Perkebunannews.com.

“Caranya dengan mengembangkan komoditi yang cepat menghasilkan yaitu tanaman semusim baik pangan maupun hortikultura . Program kami adalah menggunakan lahan eks karet dan yang selama ini tidak digunakan untuk ditanami jagung baik jagung hibrida maupun jagung manis. Lahan dataran tinggi yang suhunya cocok ditanami tanaman bawang putih kerjasama dengan investor. Sedang kebun sawit tetap pelihara dengan produktivitas yang semakin meningkat,” katanya.

Dari sisi SDM, PTPN VIII punya setidaknya 33.000 karyawan, musim petik teh tambah 10.000 jadi 43.000 orang. Tenaga tetapnya saja ada 23.000. Sekarang bagaimana memanfaatkan tenaga kerja sebanyak ini dengan pendidikan sebagian besar SMU ke bawah disesuaikan dengan lahan yang ada. Salah satunya dengan menanam jagung.

“Dalam kondisi keuangan seperti sekarang maka secara teori kita harus perbanyak teman, mitra, investor yang mau kerjasama dengan PTPN VIII. Lahannya cukup luas 113.000 ha yang tidak termanfaatkan secara optimal. Kendalanya SOP terlalu kaku sehingga sangat membatasi kerjasama dengan pihak lain. Supaya bisa selamat dari tekanan harga komoditas maka harus banyak kegiatan di luar sawit, teh, karet dengan mengajak sebanyak mungkin investor mitra dan memanfaatan sumber daya yang ada sekarang,” katanya.

Salah satu keunggulan PTPN adalah memiliki lahan dengan pemandangan bagus, udara sejuk dan keunggulan lain yang tidak banyak dimiliki orang sehingga akan fokus kegiatan agrowisata. Dalam 5 tahun ke depan akan jadi salah satu core bisnis PTPN 8. Ada peralihan fungsi dari kebun teh menjadi agro wisata.

“Agro wisata yang akan dikembangkan bukan skala kecil sehingga kami sudah mengundang berbagai pihak untuk kerjasama. Targetnya terbentuk KEK (Kawasan Ekonomi Khusus) pariwisata. Kita punya Gunung Mas dengan luas 1.625 ha, Ciater 3.200 ha, Ciwidey 3.500 ha. Setidaknya sebagian lahan layak dikembangkan jadi KEK pariwisata,” kata Wahyu.

Beberapa kebun sudah tidak cocok secara agroklimat karena sangat dekat dengan kota. Kebun Cikumpay Purwakarta dan Jalupang Subang dilewati tol Cipali, dekat pelabunan Patimbang yang akan dikembangkan, dekat dengan bandara Kertajati sehingga akan diubah menjadi kawasan industri.