13 May, 2016

Memang benar sejehtera atau tidaknya petani tergantung dari produktivitas tanamannya dan harga dari komoditas tersebut. Artinya jika ingin mensejahterakan petani maka tingkatkanlah produktivitasnya dan belilah dengan harga yang tinggi.

Sungguh miris melihat komoditas tembakau. Bagaimana tidak pajak yang dihasilkan dari produk turunan tembakau yang cukup tinggi, tapi dari dana yang masuk dari pajak tersebut hanya sebagian kecil yang kembali ke petani. Sedangkan jika dana yang kembali ke petani cukup tinggi, hal ini bisa digunakan petani untuk memprbaiki lahannya agar produktivitasnya agar bisa meningkat.

Terbukti, menurut catatan Aliansi Masyarakat Tembakau Indonesia (AMTI) bahwa produktivitas tanaman tembakau milik petani rata-rata hanya 0,7 ton per hektar pertahun. Padahal produktivitas tanaman tembakau seharusnya bisa menembus angka 1 ton per hektar pertahun.

“Akibatnya jika melihat data tahun 2013 hasil panen tembakau hanya mencapai 189.600 ton, sedangkan permintaan pasar di tahun yang sama mencapai 315.000 ton. Artinya dengan adanya selisih antara permintaan pasar dengan hasil produksi,” terang Ketua AMTI, Budidoyo.

Melihat hal ini maka menurut Budidoyo, perlu ada program kemitraan antara perusahaan yang menerima pasokan dari petani sebagai industri pengolahan dengan petani sebagai pemasok bahan baku industri.

“Satu diantaranya yaitu program Integrated Production System (IPS – Sistem Produksi Terintegrasi) di pertanian tembakau Rembang, Jawa Tengah. Melalui hal ini maka produktivias petani akan meningkat,” saran Budidoyo.

Sementara itu, petani tembakau asal Desa Selopuro, Kecamatan Lasem, Kabupaten Rembang, Provinsi Jawa Tengah Hartono membenarkan bahwa dari enam tahun sudah sejak progam IPS diterapkan di Rembang, produksi tembakau telah meningkat secara signifikan dan menjadi lebih menarik bagi komunitas petani.

“Hal ini dapat dilihat dari jumlah petani tembakau yang meningkat hingga mencapai 7.000 pada tahun 2014,” papar Hartono.
.
Lebih lanjut, Hartono mengakui melalui program kemitraan tersebut tidak hanya meningkatkan produktivitas tapi juga kualitas dari tembakau tersebut. Sebab didalam program kemitraan tersebut banyak informasi dan bantuan sehingga kualitas dan jumlah hasil panen tembakau semakin meningkat. Alhasil, pemasukkan yang petani pun jugameningkatsehinggapenghidupan petanimenjadilebih baik bagi lagi.

Sebab, melalui program kemitraaan ini petani hanya menyediakan lahannya saja, sedangkan untuk bibit serta pupuk dan pestisidanya semua disiapkan oleh mitra. Bukan hanya itu, petani tidak saja diberikan jaminan produktivitas yang tinggi, tapi juga petani diberikan jaminan pasar. Artinya jika produktivitasnya bisa melebihi apa yang dijanjikan maka semuanya tetap akan dibeli.

Disisi lain, yang membuat petani bergairah untuk melakukan kemitraanya itu petani tidak perlu mengeluarkan uang diawal untuk membeli bibit, pupuk dan pestisida. Semuanya itu akan dibayar pada saat melakukan penjualan hasil tembakau keperusahaan mitra.

“Dengan begitu maka saya tidak perlu lagi pusing-pusing untuk berpikir bagaimana mendapatkan bibit (tembakau) yang baik, pupuk dan lainnya. Bahkan saya juga tidak perlu berpikir bagaimana caranya untuk membeli. Sebab semuanya akan dibayar pada saat melakukan penjualan hasil panen,” jelas Hartono.

Contoh, Hartono menguraikan, dalam satu hektar lahan per satu musim bisa mendapatkan harga sekitar Rp 60 – 70 juta per hektar per musim, maka piutang untuk membayar bibit, pupuk dan pestisidahanya sekitar Rp 20 – 25 juta per hektar per musim. Maka dengan selisihnya antara Rp 40 – 50 juta per hektar per musim barulah petani mersakan adanya keuntungan dari tanaman tembakau.

Hal ini karena dengan kondisi naiknya biaya produksi untuk komoditas pertanian seperti saat ini maka melalui kemitraan ini petani tembakau bisa mendapatkan serta menekan harga produksi. Kemudian hal yang paling penting petani tidak hanya mendapatkan produktivitas yang tinggi tapi juga akan mendapatkan jaminan pasar.

Lebih lanjut, bagi petani yang tidak mengerti bagaimana berbudidaya tanaman tembakau sesuai dengan good agriculture practices (GAP), maka melalui kemitraan akan diajarkannya. Yaitu dari mulai menanam, umur berapa mulai memanen, hingga bagaimana cara merajangnya (memotong kecil-kecil sesuai ukuran). Lalu yang tidak kalah penting cara menjemur sehingga tercipta tembakau yang kering serta seragam kualitasnya sesuai dengan keinginan industri.

Bahkan mengingat saat pertama kali petani mengolah tanaman tembakau belum mempuyai sarana dan prasarananya maka mitra akan menyediakannya hingga alat rajangnya. “Jadi kita diajarkan berbudidaya dan diberikan alat rajang, dengan begitu maka petani sebagai operator hanya tinggal menjalankannya saja kerana semuanya sudah disiapkan oleh mitra,” papar Hartono.

Tapi, Hartono mengungkapkan, “hal yang terpenting yaitu melalui keitraan maka produktivitas akan meningkat. Sebab dengan meningkatnya produktivitas maka pendapatan otomatis juga akan meningkat.” YIN