7 November, 2019

JAKARTA, Perkebunannews.com – Akibat kemarau ekstrem tahun ini, produksi teh petani diprediksi turun 10 persen dibanding tahun lalu. Petani hanya berharap cuaca normal kembali.

Ketua Umum Asosiasi Petani Teh Indonesia (Aptehindo) Nugorho B. Koesnadi mengatakan, cuaca kemarau ekstrem sangat berpengaruh terhadap pertumbuhan pucuk teh. “Akibatnya produksi teh menurun. Tahun ini diperkirakan produksi teh rakyat turun 10 persen,” ujarnya kepada Perkebunannews.com, Kamis (7/11).

Nugoro mengatakan, pada umumnya petani hanya berharap kondisi cuaca normal kembali sehingga pertumbuhan tanaman teh menjadi pulih. Petani pun tidak beralih ke komoditas lainnya.

Jika cuaca normal, menurut Nugroho, petani yang bermitra dengan PT Kabepe Cakra yang terbaik produktivitasnya ada yang mencapai 4000 kilogram (Kg) per hektar (Ha) pucuk kering atau sekitar 17.000 Kg pucuk segar per Ha/tahun. “Kelompok tani terbaik bisa mencapai rata-rata 3000 kilogram teh kering per hektar per tahun atau sekitar 13.000 kilogram pucuk segar per hektar,” jelasnya.

Sedangkan produktivitas rata-rata petani teh secara keseluruhan di Indonesia hanya mencapai 1400 Kg teh kering per Ha/tahun atau 6000 Kg pucuk segar per Ha. “Makanya masih perlu dilanjutkan program Gerakan Penyelamatan Agribisnis Teh Nasional (GPATN) dan kerjasama kemitraan petani dengan perusahaan,” ujar Nugroho.

Nugroho menyebutkan, harga pucuk teh tahun ini ada sedikit peningkatan. Namun harga pucuk tergantung pada mutu petik. “Pucuk teh petani paling kasar sekitar Rp 2.500 per kilogram. Sedangkan petikan pucuk agak kasar Rp 3.000, pucuk medium Rp 3.400 dan pucuk klon hibrid bisa mencapai Rp 4.000 per kilogram,” ungkapnya.(YR)