Suzuki
11 April, 2019

BOGOR, Perkebunannews.com – Potensi minyak sawit tidak hanya diolah untuk biodisel. Namun minyak mentah sawit atau Crude Palm Oil (CPO) dapat diolah menjadi berbagai bentuk biofuel, seperti green Gasoline, green diesel, dan green avtur. Hal tersebut dapat diproses melalui teknologi dry process.

Ketua Umum Masyarakat Perkelapasawitan Indonesia (MAKSI) Darmono Tanuwiryono mengatakan, saat ini sudah berkembang Bahan Bakar Minyak (BBM) nabati cair dari minyak sawit sehingga pengolahannya tidak hanya untuk biodiesel (sawit).

Dalam kaitan itulah, MAKSI menggelar Kuliah Umum Status Terkini Pengembangan Biofuel dari Minyak Sawit dan Minyak Inti Sawit di Bogor, Rabu (10/4). “Supaya masyarakat memahami dan mempunyai persepsi yang sama tentang potensi minyak sawit sebagai bahan bakar nabati,” ujar Darmono.

Menurut Darmono, untuk mengolah minyak sawit ke berbagai bentuk biofuel pabrik kelapa sawit (PKS) menggunakan teknologi dry process. Sedangkan PKS yang ada saat ini mengandalkan teknologi dari barat (Jerman).

Di sisi lain, karakter minyak sawit sangat berbeda dengan soft oil yang mudah tengik. Sedangkan minyak sawit yang masih murni tidak mudah tengik. “Disimpan yang di ruangan selama enam hingga satu tahun juga tidak tengik,” kata Darmono.

Darmono mengatakan, pengolahan minyak sawit menggunakan tekonologi dry process, dampaknya tidak hanya pada produksi CPO saja, melainkan juga bisa menyelesaikan masalah lingkungan. Karena dengan dry process tidak menghasilkan limbah cair.

Saat ini yang dipermasalahkan Eropa adalah limbah cair sawit yang diperhitungkan emisinya. “Teknik ini juga untuk menyelesaikan masalah lingkungan tidak semata-mata untuk produksi yang lebih baik,” jelas Darmono.

Darmono menyakini teknologi dry process yang saat ini masih embrio masih bisa dikembangkan dan diaplikasikan. “Saya yakin bisa berjalan dan bisa menjadi leading sebelum Malaysia. Termasuk biohidrokarbon juga kita yang mulai terlebih dulu sebelum Malaysia,” ujarnya.

Tiga pembicara turut dalam Kuliah Umum itu antara lain Ketua Umum Ikatan Ahli Bioenergi Indonesia (IKABI) Tatang H. Soerawidjaja, Guru Besar Institut Teknologi Bandung Prof Subagjo dan Sahar Sinaga dari Masyarakat Biohidrokarbon Indonesia. Hadir juga Prof Bungaran Saragih, Derom Bangun, Direktur Eksekutif Palm Oil Agribusiness Strategic Policy Institute (Paspi) Tungkot Sipayung, para akademisi dan petani sawit. (YR)