21 October, 2019

JAKARTA, Perkebunannews.com – Petani sereh wangi meminta pemerintah untuk menyetop impor minyak atsiri, terutama dari China. Karena serapan minyak atsiri dari petani berkurang sehingga berakibat harga minyak sereh turun hingga 50 persen lebih.

Ketua Perhimpunan Petani dan Penyuling Minyak atsiri (P3MA) Sumatera Barat (Sumbar), Djunaidi (64) mengatakan, penurunan harga yang cukup drastis ini membuat petani merana. “Karena permintaan tetap malah ada kenaikan. Tapi harga minyak sereh malah turun dari 300 ribu rupiah per kilogram menjadi 120 ribu,” ujarnya kepada Perkebunannews.com

Djunaidi atau Edi panggilan akrabnya menduga, industri minyak atsiri melakukan impor dari negara luar dengan harga murah. Sehingga stok minyak sereh petani berkurang serapannya. Hal ini berakibat harga minyak atsiri petani turun.

Menurut Djuanaidi, penurunan harga minyak sereh terjadi sejak awal 2019 ini. Padahal sebelumnya harganya mencapai Rp 300 ribu per Kg. “Permintaan minyak atsiri juga tidak berubah. Ini ada apa?” tukas Ketua Kelompok Tani Agribisnis Atsiri Kota Solok, Sumbar, itu.

Djanuardi menurutkan, setiap 1 hektar (Ha) sereh wangi bisa dipanen 4 kali dalam setahun. Setiap 3 bulan petani bisa panen 8-10 ton. Jika harga daun sereh wangi Rp 800/Kg, maka paling tidak petani bisa mendapatkan keuntungan dengan menjual daunnya sekitar Rp 6,4 juta tiap 3 bulan.

Selain itu, tambah Djunaidi, dari hasil penyulingan petani bisa mendapatkan penghasilan dari minyak sereh wangi sekitar Rp 32 juta (kotor)/bulan. Petani juga bisa mendapat hasil tambahan dari penjualan daun sekitar Rp 800/kg. “Tapi itu kalau harganya 120 ribu seperti saat ini, tipis sekali untungnya,” tandasnya. (YR)