16 October, 2019

Dari 3,6 juta ton produksi karet alam Indonesia, sekitar 94% diolah jadi SIR 20 sebagai bahan baku pabrik ban. Ini merupakan disain industri karet sejah tahun 1970an. “Jadi pengembangan industri karet ke depan harus mengikuti disain industri yang sudah ada yaitu berbasis crumb rubber, kalau tidak akan mubasir,” kata Moenardji Soedargo, Ketua Umum Gabungan Pengusaha Karet Indonesia, pada 1st Konferensi Karet 2019 “Menuju Agribsnis Karet yang Tangguh, Menguntungkan dan Berkelanjutan yang diselenggarakan Media Perkebunan/Perkebunan News.com.

Tahun 2018 produksi karet 3,6 juta ton sedang tahun ini karena penyakit gugur daun Pestalotiopsis membuat hanya sekitar 3 juta ton saja. Padahal akibat kebijakan pemda kabupaten yang membuka ijin pabrik crumb rubber di masing-masing wilayahnya membuat kapasitas sekarang mencapai 5,9 juta ton.

Dengan utilisasi hanya 60% membuat inefisiensi dan ongkos produksi menjadi mahal. Beban ini ikut ditimpakan juga ke petani dalam bentuk harga. Pabrik menjadi korban, petani juga. “Petani dan pabrik berada dalam satu kapal. Beberapa anggota GAPKINDO sudah keluar karena pabriknya berhenti beroperasi. Ada yang mau keluar saya tahan, tidak perlu bayar iuran anggota yang penting pabrik bisa berjalan dulu,” katanya.

Industri crumb rubber pernah masuk daftar negatif investasi tetapi dicabut dengan persyaratan tambahan harus membangun kebun karet untuk memenuhi 20% kebutuhan pabrik dan sisanya kemitraan dari petani. Pada pemerintahan baru nanti Moenardji minta supaya kembali masuk DNI.

Moenardji yakin karet masih prospektif karena permintaan tidak akan turun, konsumsi pasti akan terus tumbuh. Masalahnya saat ini harga rendah karena pasar acuannya yaitu SICOM (bursa komoditi Singapura) sama sekali tidak menunjukkan kondisi real pasar karet dunia, sehingga harus direview. Buktinya meskipun Indonesia produksi turun sampai 500.000 ton sama sekali tidak ada pergerakan harga di SICOM.

Narasi yang dibentuk saat ini adalah ada stok dunia 3,6 juta ton atau stok dunia 3 bulan. “Secara logika mana ada orang yang menimbun begitu banyak ketika harga sedang turun, sejak tahun 2011. Kita coba lawan narasi ini dengan pemotongan ekspor oleh 3 negara sebesar 250.000 ton, harga sempat naik tetapi kemudian turun lagi. Sekarang narasinga akibat perang dagang China Amerika Serikat, , padahal harga turun jauh sebelum ada kejadian ini ,” katannya.

“Dalam pertemuan tertutup dengan produsen ban dunia saya katakan kondisi sekarang memang menguntungkan mereka tetapi kalau terus dibiarkan bisa saja satu negara produsen lagi yaitu Indonesia hilang. Brasil dulu produsen karet sekarang sudah hilang. Ketergantungan pada SICOM harus diubah,” katanya.

Seorang analis di London menunjukkan bahwa sejak harga karet turun , tiga pabrik ban terbesar dunia yaitu Bridgestones, Michellin dan Good Year keuntungannya naik significant sekali. Disini sebenarnya pengusaha dan petani berada dalam satu kapal menghadapi ketidakfairan dunia internasional.

Saat ini juga internasional berusaha membuat platform sustainable naturan rubber. GAPKINDO sendiri akan membidani Indonesia Sustainable Natural Rubber yang melibatkan multistakeholder, juga bukan hanya lingkungan dan sosial tetapi ekonomi.

Mendag didepan forum sustainable natural rubber menyatakan saat ini nilai ekspor produsen karet dunia USD16 miliar, sedang nilai penjualan seluruh pabrik ban dunia USD242 miliar. Kenapa yang USD16 miliar yang terdiri dari petani dan prosesor diharuskan melakukan tracebility dan lain yang memberatkan. Lebih baik surplus di USD242 miliar ini dipakai membantu petani.