7 November, 2019

Masa-masa terburuk minyak sawit dimana terjadi kelebihan pasokan sepanjang 2018-2019 sudah berakhir. Produksi CPO akan tetap tumbuh hanya tidak setinggi sebelumnya. Arif P Rachmat, Ketua Kadin Bidang Agroindusti/CEO Triputra Group menyatakan hal ini pada IPOC 2019.

Produksi CPO Indonesia 2017-2019 tumbuh 16%, 2020 masih tetap tumbuh hanya lambat. Tahun 2017 produksi CPO 37,8 juta ton, 2018 41,7 juta ton (tumbuh 10,2%), tahun 2019 diperkirakan 44,2 juta ton (tumbuh 6,1%) dan tahun 2020 diperkirakan 46,1 juta ton (tumbuh 4,2%).

Program B20 pemerintah Indonesia secara luar biasa menyerap CPO di dalam negeri, diperkirakan tahun 2019 mencapai 6,5 juta kilo liter. Tahun 2020 akan diterapkan B30 yang diterapkan secara luas bukan hanya kendaraan saja tetapi kereta api (sudah ujicoba 1.000 jam untuk genset dan uji jalan 6 bulan); alat mesin pertanian (sedang test ketahanan 1000 jam untuk Kubota, Yanmar, Tri Ratna dan Diamond diesel); Alat berat ( Komatsu, Caterpilar, MTU, Scania) di beberapa tambang Adaro, Berau Coal dan KPC, uji coba untuk dumptruck 30 ton dan 100 ton 2500 jam; kapal laut uji coba 15.000 jam.

Dengan B30 diperkirakan dalam 5 tahun kedepan akan ada serapan 3 ton CPO pertahun. Sedang untuk pembangkit listrik PLN diperkirakan ada tambahan konsumsi 300.000 ton/tahun tahun 2020-2021 dan 600.000 ton/tahun tahun 2022-2024.

Permintaan CPO di negara-negara berkembang akan semakin meningkat. India tahun 2019 diperkirakan mengimpor minyak sawit 9,5 juta ton sedang 2020 9,9 juta ton (tumbuh 4,2%). Pakistan dan Bangladesh diperkirakan impor naik 7% dari 5,7 juta ton menjadi 6,2 juta ton periode yang sama. China akan tumbuh 8% dari 6,6 juta ton menjadi 7,1 juta ton. Sedang Eropa akan tetap 6,9 juta ton. Sedang disisi lain permintaan kedelai akan naik 3,1% sehingga stok turun.

Pertumbuhan permintaan tidak bisa diikuti pertumbuhan pasokan sehingga harga CPO diperkirakan akan naik. Kuartal 4 2019 diperkirakan harga mencapai USD550/ton sedang kuartal 1 2020 diperkirakan USD600/ton.