9 October, 2019

Ketua Umum Persatuan Pengusaha Arang Kelapa Indonesia (PERPAKI) minta Presiden Jokowi memasukkan industri arang kelapa dan turunanya dalam Daftar Negatif Investasi. “Bukannya kami anti asing tetapi anak bangsa sendiri mampu membuat apalagi tidak butuh modal besar dan teknologi canggih untuk industri ini,” kata Yogi Abimanyu, Ketua Umum PERPAKI.

Bila permintaan ini dikabulkan maka semua anggota Perpaki akan bergerak ke seluruh Indonesia menularkan ilmu arang briket ini ke pedesaan. Tumpukan tempurung kelapa di desa-desa akan diubah menjadi tumpukan dollar. Tetapi bila tidak dikabulkan maka asinglah yang masuk ke desa-desa dan memanfaatkannya.

Jangan dibiarkan industri rakyat UMKM bertarung melawan pemodal besar industri asing. Mereka mulai menggurita dan merugikan pemain lokal.

Menurut Sentot Hartono, Sekjen Perpaki, pengusaha arang briket kelapa ini sudah banyak yang masuk ke Indonesia. Padahal membangun industri arang briket kelapa tidak perlu modal besar, dengan hanya satu miliar rupiah saja sudah bisa.

Dengan membangun industri arang briket kelapa di sini mereka jadi tahu biaya produksi sebenarnya. Briket arang kelapa ini akhirnya dijual murah pada eksportir yang masih satu group di negara mereka, sedang di pasar ritel dijual tinggi sehingga keuntungan terbesar dinikmati mereka.

“Hal ini menekan kami. Kami jadi sulit mendapat harga tinggi karena sudah harganya sudah ditekan oleh perusahaan asing ini,” katanya.

Menurut Yogi briket arang kelapa merupakan produk energi sehingga permintaanya akan selalu ada, terutama untuk ritel. Tempurung kelapa diolah jadi arang di pedesaan, kemudian anggota Perpaki mengolah lagi menjadi briket arang dan karbon aktif kemudian diekspor.

Di negara-negara tujuan ekspor arang briket ini digunakan untuk barbekyu, shisha, dan penghangat ruangan. Sedang karbon aktif banyak digunakan sebagai filter air.

“Hanya negara tropis yang menghasilkan kelapa. Khsusus arang briket, Indonesia yang paling bagus. Karena itu banyak negara penghasil arang mengimpor kelapa utuh atau tempurung. Hal ini jangan dibiarkan karena kedepannya akan merugikan industri arang kelapa di dalam negeri,” katanya.

Di tangan Perpaki , arang kelapa mulai naik kelas, karena sudah menembus pasar Eropa dan Timur Tengah, juga dikenal sebagai produk terbaik di dunia. Tahun 2017 kebutuhan dunia untuk sisha saja 800.000 ton atau senilai Rp16 triliun. Indonesia mampu memenuhi kebutuhan 217 ribu ton atau 27% saja, dengan nilai Rp4,3 triliun.

Menurut Sentot, anggota Perpaki hanya bergerak di arang briket saja dan tidak masuk ke industri arang sebab itu sudah porsinya penduduk pedesaan. Anggota Perpaki terjun langsung ke desa-desa mengedukasi bagaimana cara membuat arang yang baik, sehingga rendemenya ketika diolah jadi briket arang tinggi.

Contohnya anggota Perpaki di Cirebon pasokannya berasal dari arang di Sulawesi. Ketika belum diedukasi arang yang masuk ke pabrik ada yang sampai meneteskan air. Setelah edukasi hal-hal seperti ini tidak terjadi.

Di pabrik briket arang ini diolah sehingga bisa memenuhi tuntutan pasar ekspor seperti tidak berasal, tidak berbau, warna apinya harus bagus, abunya sedikit dan lain-lain. Sebagian besar briket arang ini diekspor ke berbagai negara.

Paling besar adalah Jerman karena disana ada 18.000 restoran yang menyajikan sisha. Kemudian Soviet, Ukraina dan negara-negara Timur Tengah. Pasar yang paling besar adalah briket untuk sisha dan barbekyu, sedang karbon aktif meskipun besar masih dibawah briket.