Suzuki
22 January, 2019

Permintaan dunia akan serat alam dari tanaman serat, seperti kenaf, sangat tinggi, saat ini supply serat kenaf baru memenuhi kebutuhan 60% saja. Permasalahan dalam pengembangan kenaf di Indonesia untuk mendukung industri yang menggunakan serat kenaf adalah sistem pemasaran yang ada. Saat ini sistem pemasaran serat kenaf yang ada adalah monopoli supply serat kenaf dari suatu investor ke pengguna utama.

Mardjani , peneliti tanaman serat Balai Tanaman Pemanis dan Serat, Pusat Penelitian Perkebunan menyatakan hal ini dalam perbincangan dengan Perkebunannews.com. Padahal tanaman serat ini ditanam pada lahan yang tanaman lain tidak bisa produktif, jadi pengembanganya masih luas,” katanya.

Penanaman kenaf di Indonesia, 99% ada di Lamongan, Jawa Timur. Setiap tahun luas penanaman antara 10,000-20.000 ha. Pengelolanya adalah PT Global Agrotek Nusantara (GAN) yang serat kenafnya dijual pada PT Toyota Boshoku Indonesia. Saat ini petani menghasilkan serat yang semuanya ditampung PT GAN. Perusahaan ini membina petani dengan memberikan pinjaman benih, biaya olah tanah, garap dan pemeliharaan. Pengembalian pinjaman dilakukan setelah panen dengan memotong dari harga pembelian.

Setiap tahun produksi sekitar 3.000 –4.000 ton serat, sedang kebutuhannya 7.000 ton sehingga impor berkisar 3.000-4.000 ton. Impor serat kenaf diperoleh dari Vietnam, India dan Bangladesh. Luas tanaman Kenaf di Vietnam sama dengan Indonesia, Bangladesh cukup luas dan terluas India hampir 800.000 ha.

Kenaf dikembangkan di lahan bonoworo (lahan banjir) yang selalu tergenang bila musim hujan. Lahan ini semakin berkurang, sehingga harus beralih ke lahan marginal lainnya seperti lahan kering, masam, gambut dan pasang surut. Saat ini Balittas sudah menghasilkan varietas kenaf untuk lahan seperti ini. Varietas unggul kenaf yang telah dihasilkan Balittas adalah KR 11 untuk lahan bonorowo; KR 14 dan KR 15 untuk lahan podsolik merah kuning (PMK); dan KR 9 dan KR 12 untuk lahan kering. Varietas–varietas tersebut dapat ditanam sembarang waktu karena kurang terpengaruh oleh fotoperiodisitas.

Masalah utama yang dihadapi kalau ditanam diluar Bonorowo adalah biaya produksi meningkat karena biaya rettingnya meningkat. Retting adalah proses merendam, ekstraksi sampai menjadi serat dengan biaya 60% dari seluruh biaya produksi. Untuk mengatasinya Balittas sedang mengembangkan dew retting, yaitu retting dengan menggunakan jasa mikro organisme pengurai pektin dan pentosan yang efekif, aplikasinya hanya menggunakan sedikit air, sehingga biaya proses penyeratan dapat dihemat.

Prospek pemanfaatan kenaf di dunia cukup bagus, dibuktikan dengan permintaan ekspor benih kepada Balitas. Akan tetapi, Balittas hanya memproduksi benih sumber dan tidak memproduksi kelas benih sebar, sehingga permintaan ekspor benih tidak dapat dipenuhi. Dalam pengembangan kenaf saat ini, kebutuhan benih sebar petani dipenuhi oleh PT GAN, yang telah mempunyai perjanjian lisensi dengan Balittas dengan menangkar benih unggul varitas KR -15.

Sistem pemasaran serat kenaf yang ada saat ini adalah pasar tunggal pengguna serat kenaf, yaitu PT Toyota Boshoku dan pemasok serat, yaitu PT GAN yang diikat dalam perjanjian kerjasama. PT Toyota Boshoku hanya bisa membeli serat kenaf dan tidak bisa menerima dari pihak lain. Toyota Boshoku mengolah serat kenaf menjadi door trim, seat frame, seat, package tray dan carpet. Kenaf digunakan karena kuat dan ringan sehingga bobot kendaraan berkurang dan lebih hemat bahan bakar.

Tanaman kenaf selain dimanfaatkan dalam industri otomotif, juga digunakan untuk industri lain, misalnya investor dari Malaysia dan Korea Selatan tertarik mengolah biji jadi minyak. Kandungan linoleat dan linolenat yang tinggi baik untuk gizi dan kosmetik, sehingga kelembaban kulit terjaga dan tidak licin. Selain itu, investor dari Jepang sedang berupaya menggunakan biomassa tanaman kenaf untuk sumber energi dengan memanfaatkan teknologi nano. Biomassa sisa penyeratan kenaf, yaitu core kenaf, dapat dimanfaatkan untuk ban bioethanol G2, kertas, paper dan bahan lain yang memerlukan sedikit selulosa.

Untuk pemasaran komoditas kenaf, khususnya serat kenaf, dan biomassa tanaman serat diperlukan perbaikan sistem pemasaran, sehingga terjadi pengembangan komodias yang dapat memenuhi kebutuhan industri yang menggunakan serat dan biomassa kenaf, baik dalam negeri maupun luar negeri.