25 November, 2019

Minyak sawit merupakan sumber devisa terbesar dengan nilai ekspor yang mencapai USD16,53 miliar (data Bank Dunia 2019). Nilai ini akan semakin besar bila diekspor dalam bentuk downstream industri. Erliza Hambali, Guru Besar Pusat Riset Surfactan dan Bioenergi IPB menyatakan hal ini.

Pengembangan downstream industri kelapa sawit harus dilaksanakan secara simultan dan bersinergi dari aspek infrastruktur, kebijakan yang mendukung bisnis, adopsi teknologi, pasar dan sumber daya manusia. Kesiapan teknologi yang kompetitif, inovasi, pendidikan tinggi dan pelatihan di bidang ini untuk Indonesia masih sangat kurang.

Memperkuat inovasi untuk menghasilkan produk bernilai tambah tinggi dari minyak sawit bisa dilakukan lewat berbagai riset yang melibatkan perguruan tinggi dan lembaga penelitian. Dengan basis harga CPO/PKO USD800-1000/ton maka bila diolah sedikit jadi refined oil seperti RBDPO dan minyak gorang harganya menjadi USD1000-1400/ton; diolah lagi jadi produk oleokimia dasar seperti gliserin, fatty acid, fatty alkohol, methyl ester maka harganya USD1400-2000/ton; diolah lagi jadi produk oleoderivatif seperti surfactan, bermacam-macam ester, metal soap dan lain-lain maka harganya jadi USD2000-3000/ton dan bila jadi produk akhir seperti kosmetik, sabun, detergen, obat maka harganya jadi USD3000-4000/ton.

Industri oleokimia di Indonesia tahun 2018 tercatat 19 perusahaan dengan produksi fatty acid 4.476.000 ton, fatty alcohol 2.120.000 ton, Glycerine 887.700 ton methyl ester 1.933.000 ton dan soap nodle 1.838.000 ton. Tahun 2019 ada tambahan 2 perusahaan dengan produksi fatty acid 4.551.000 ton. Itu semua anggota Asosiasi perusahaan oleochemical Indonesia di luar itu ada non anggota dengan produksi fatty acid 710.000 ton, fatty alcohol 40.000 ton dan glycerine 29.700 ton.

Investasi tahun 2017 mencapai Rp4,77 triliun sedang tahun 2018 Rp1,14 triliun. Mayoritas berlokasi di Sumatera sebagai sumber bahan baku CPO. Ada 2 perusahaan di Jawa Barat dan 1 di Jawa Timur.Tahun 2017 volume ekspor oleochemical mencapai 1.797.000 ton dengan nilai USDUSD 1,535 juta dan 2018 volume jadi 2.765.000 ton dengan nilai USD2,382 juta.

Sedang industri biodiesel tersebar di seluruh Indonesia yaitu di Sumatera kapasitas 7.377.299 KL, Jawa 2.983.852 KL, Kalimantan 1.262.356 KL, Sulawesi 475.862 KL dan Bali 360 KL.

Kekuatan Indonesia untuk mengembangkan industri ini adalah bahan baku yang melimpah. Kelemahannya adalah infrastruktur, riset dan keahlian yang masih kurang disertai kebijakan pemerintah yang kurang mendukung. Peluangnya sendiri besar karena permintaan dunia semakin meningkat. Ancamannya juga besar karena meskipun sudah jadi produk downstream tetap rawan kena isu lingkungan akibat bahan baku minyak sawit.