Suzuki
11 January, 2019

Program pertama ketika Gatot Irianto menjadi Dirjen Tanaman Pangan adalah memperluas lahan. “Saya tidak mau membantu petani yang sudah biasa menanam jagung. Supaya langsung kelihatan hasilnya, kita tidak buka lahan baru tetapi manfaatkan lahan yang ada. Maka kita garap petani perkebunan dengan menanam jagung di bawah kelapa sawit, kelapa dan lain-lain. Kita beri bantuan benih, pupuk dan lain-lain,” katanya.

Sekarang petani kelapa sawit yang melakukan peremajaan atau tanamannya masih muda, tidak lagi menanam tanaman penutup tanah. Mereka menanam jagung sehingga ada tambahan penghasilan.

Petani kelapa di Sulawesi Utara juga sangat antusias menanam jagung disela-sela pohon kelapa. Hasilnya Sulawesi Utara yang selama ini tidak ada apa-apanya sebagai produsen jagung, sekarang menduduki posisi 5.

Secara umum saat ini Indonesia sudah swasembada jagung. Impor jagung masih ada karena pada waktu dan tempat tertentu masih defisit. Januari ada impor jagung karena bulan ini defisit. “Jadi swasembada bukan berarti tidak ada impor. Defisit sangat spesifik waktu dan tempat,” katanya.

Saat ini trend pertanian adalan polikutur dengan kerapatan tinggi, demikian juga pada tanaman pangan. Karena itu dikembangkan pola pertanian padi-jagung, jagung-kedelai, padi-jagung-kedelai.

Benih tidak lagi ditanam dengan transplanter tetapi langsung disebar. Hal ini mengurangi biaya penanaman benih dari Rp1,25 juta/ha menjadi Rp100.000/ha. Kebutuhan benih jadi tinggi, yang biasa 25 kg/ha menjadi 75-80 kg/ha.

Dengan cara ini biaya produksi rendah, produktivitas naik, keuntungan bertambah. Nilai tukar petani dan nilai tukar usaha tani meningkat sangat significant.
.