17 November, 2019

Jakarta, perkebunannews.com – Memang sudah seharusnya suatu peraturan dibuat atas dasar kepentingan bersama. Jangan hanya mementingkan satu atau dua golongan saja.

Hal tersebut diungkapkan oleh petani tembakau atas adanya kenaikan harga rokok yang masuk dalam bagian Industri Hilir Tembakau (IHT) sebesar 23 persen.

“Mestinya ada perlu regulasi yang jelas sehingga petani tembakau tidak menjadi korban dengan adanya suatu kebijakan,” kata Wening Swasono Sekjend Asosiasi Petani Tembakau Indonesia kepada perkebunannews.com.

Sebab, Wening mengakui, dengan adanya kebijakan tersebut akan mengurangi bahan baku (IHT) yang dipasok oleh petani. Padahal harus diakui bahwa harga daun tembakau yang dipasok oleh petani ke IHT tidaklah main-main.

Salah satunya di Jawa Barat. Berdasarkan catatan APTI Dewan Perwakilan Daerah (DPD) Jabar bahwa Jabar sendiri bisa menghasilkan 5 jenis produk industri hilir tembakau (IHT) dari 7 jenis IHT yang ada.
Contoh, pertama, untuk tembakau mole. Dalam satu hektar bisa menghasilkan antara 850 – 1.000 per hektar per musim. Harganya berkisar antara Rp 60 – 65 ribu per kilogram. Kedua, tembakau hitam. Biasanya dalam satu hektar bisa menghasilkan antara 1.200 – 1.400 kilo gram per musim. Harganya berkisar antara Rp 70 – 75 ribu per kilogram.

Ketiga, tembakau krosok. Biasanya dalam satu hektar bisa menghasilkan 1.800 – 2.200 kilogram per musim. Harganya Rp 22 – 30 ribu per kilogram. Keempat, tembakau sak atau rajang kasar. Biasanya dalam satu hektar bisa menghasilkan antara 1.600 –1.800 kilogram per musim. Harganya berkisar antara Rp 40 – 55 ribu per kilogram. Terakhir, tembakau uteran. Biasanya dalam satu hektar bisa menghasilkan antara 1.600 – 1.800 kilogram per musim. Harganya paling tinggi atau mencapai Rp 150 ribu per kilogram.

“Artinya harga tembakau tidaklah kecil jika dibandingkan dengan komoditas lainnya,” ucap Wening.
Lebih dari itu, menurut Wening, bagi petani tanaman perkebunan tembakau bisa dijadikan sebagai tanaman penyelamat di musim kemarau. Sebab tanaman tembakau hanya membutuhkan air yang sedikit.

Terbukti pada saat musim kemarau datang hanya petani yang berbudidaya tembakau yang bisa merasakan hasil panen. “Artinya tembakau juga telah menjadi tanaman solusi dimusim kemarau,” pungkas Wening. YIN