Suzuki
8 August, 2018

Lahan kopi yang digarap petani Indonesia saat ini relatif kecil yaitu 0,71 ha per keluarga untuk kopi robusta dan 0,6 ha/keluarga untuk petani kopi arabika. Padahal luas yang ideal adalah 2,7 ha/keluarga. Menko Perekonomian Darmin Nasution menyatakan hal in pada Roundtable Discussion “Strategi Kebijakan dan Program Pengembangan Kopi Indonesia untuk Merespon Kebutuhan Agroindustri Kopi Global” yang diselenggarakan PT Riset Perkebunan Nusantara.

Persoalan lainnya adalah produktivitas kopi petani yang cenderung lebih rendah dari potensinya yaitu 0,53 ton/ha dari total potensi 2 ton/ha untuk kopi robusta dan 0,55 ton/ha dari potensi ,5 ton/ha untuk kopi arabika.

Kombinasi dari dua permasalahan ini mengakibatkan petani tidak mampu memperluas kebun, melakukan intensifikasi dan peremajaan. “Pemerintah perlu hadir untuk menyelesaikan masalah ini. Salah satu wacananya adalah pembentukan Badan Pelaksana Dana Perkebunan Kopi yang nanti titik beratnya pada riset dan pembinaan petani,” katanya.

Data international Coffe Organization menunjukkan sampai Juni 2018, dunia mengalami defisit kopi sampai 1,36 juta karung. Indonesia sebagai pemilik varietas kopi yang beragam dengan luas lahan 1,25 juta ha bisa mengambil peranan.

Konsumsi kopi nasional sendiri berkembang sangat pesat dalam lima tahun terakhir tumbuh 8,8%/tahun, sedang pertumbuhan produksi hanya 0,3%/tahun. Bila tidak diantisipasi maka dalam 2-3 tahun terakhir Indonesia akan menjadi impotir kopi. Karena itu perlu ada peningkatan gerakan produksi dan mutu kopi nasional.