Suzuki
5 April, 2019

JAKARTA, Perkebunannews.com – Untuk terus mendorong kualitas komoditas agar mampu memenuhi permintaan pasar, pemerintah mendorong penuh pengembangan riset dari sisi hulu dan hilir untuk menghasilkan kualitas komoditas berkualitas tinggi dan dapat bersaing di pasar global.

Hal tersebut dikatakan Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Darmin Nasution saat memberikan sambutan pada acara Cho-choc Tea Night and Fun yang merupakan rangkaian acara Seminar Pupuk dan Mekanisasi di Perkebunan yang diadakan PT Riset Perkebunan Nusantara (RPN) di Jakarta, Rabu (4/4).

“Saya ingat pernah melakukan pengembangan riset komoditas perkebunan pada tahun 1980-an. Namun, hal ini berhenti dan tidak diteruskan. Padahal, komoditas-komoditas ini sangat berpeluang melahirkan tidak hanya lapangan usaha, tetapi juga entrepreneur yang dapat membangun sektor ini secara jangka panjang,” ungkap Darmin.

Darmin menegaskan bahwa sektor perkebunan tanpa adanya pengembangan riset tidak akan dapat berkembang secara optimal. Tidak hanya itu, beberapa produk perkebunan berbasis kerakyatan yang sarat dengan kurangnya pengembangan riset untuk menghasilkan komoditas yang baik.

Di sisi lain, lanjut Darmin, pengembangan riset hanya ditemukan di perkebunan-perkebunan milik perusahaan besar. Saat ini, pengembangan riset yang diperlukan oleh sektor perkebunan sendiri berpusat pada riset terhadap benih, processing, dan budidaya komoditas itu sendiri.

“Akan menjadi kerugian tersendiri jika di sekitar perkebunan rakyat tidak ada pengembangan riset yang biasa dikembangkan oleh perusahaan besar dan pemerintah tidak mengambil langkah untuk mengisi kekosongan ini. Karena itulah, kami terus mendorong pengembangan riset untuk komoditas perkebunan ini,” jelas Darmin.

Menurut Darmin, komoditas perkebunan perlu mendapatkan perhatian tersendiri, khususnya pada bagian processing. “Kita tahu bahwa Indonesia memiliki speciality coffee misalnya, yang sangat bervariasi. Jika komoditas ini diproses dengan baik maka kopi nasional kita akan memiliki ciri khas tersendiri. Jadi, komoditas perkebunan perlu diproses dengan standar yang tinggi agar dapat bersaing,” ujarnya.

Sementara itu, Direktur Utama PT RPN Teguh Wahyudi mengakui, perkebunan di Indonesia masih kurang memberikan perhatian terhadap mekanisasi pertanian. “Itulah salah satu sumber untuk mendapatkan efisiensi,” ujarnya.

Menurut Teguh, kurangnya perhatian terhadap mekanisasi pertanian mengakibatkan biaya produksi yang mahal dan tidak efisien. Sekarang biaya tenaga kerja cukup tinggi sekitar 15-20 persen. “Kalau dengan mekanisasi kita bisa menurunkan biaya tenaga kerjanya sekitar 10 sampai 15 persen,” kata pada Seminar Nasional bertajuk “Pupuk dan Mekanisasi di Perkebunan”. (YR)