Suzuki
2 January, 2019

Rencana pemerintah untuk membuka investasi pabrik crumb rubber sebebas-bebasnya perlu dipertimbangkan kembali. Sebab industri yang ada sekarang sudah dibawah kapasitasnya. Kalau semakin banyak industri maka akan semakin banyak yang iddle dan tidak efisien. Moenarji Soedargo, Ketua Umum GAPKINDO (Gabungan Pengusaha Karet Indonesia) menyatakan hal ini pada Perkebunannews.com.

“Semakin tidak efisien maka cost akan semakin besar. Dalam kondisi ini mau tidak mau dibebankan pada petani dengan menekan harga. Pada akhirnya petani lagi yang menjadi korban,” katanya.

Atas rencana pemerintah yang akan membuka investasi di sector crumb rubber yang sebelumnya dalam Perpres No. 44 tahun 2016 diharuskan memenuhi ijin khusus yang diterbitkan oleh Kementerian Perindustrian melalui permen No, 09 tahun 2017, dan dalam revisi Perpres No. 44, rencananya tidak lagi dikenakan persyaratan khusus, sehingga membuka seluas-luasnya perijinan di bidang crumb rubber.

Gapkindo berpendapat rencana kebijakan pemerintah untuk membuka investasi tanpa syarat, akan membuat petani terpuruk yang pada gilirannya merusak perekonomian, karena Kondisi saat ini terjadi over kapasitas terpasang dalam Industri pengolahan crumb rubber vs kapasitas produksi hulu (petani).

Kapasitas terpasang industri crumb rubber saat ini mencapai 5,6 juta ton sementara ketersediaan bahan baku hanya 3,5 juta ton sehingga utilisasinya hanya 62,17%. Dari utilisasi hanya 62,17% ini dikuasai PMA atau afliasinya sedang PMDN 37%.

Ada 61 pabrik yang dimiliki asing dan afiliasnya dengan volume ekspor 62,91% sedang pabrik PMDN 91 unit dengan volume ekspor 37,09%. “Kita tidak masalah dengan pabrik milik asing dan afiliasinya karena mereka juga anggota GAPKINDO dan kita sudah lama berdampingan. Tetapi kalau dibuka sebebas-bebasnya mereka siap masuk dan sedang menunggu,” katanya.

Dari pabrik asing dan afilasinya di Indonesia 36 pabrik milik BUMN China dengan pangsa ekspor 36,31%, swasta Thailand 9 unit pangsa ekspor 11,12%, swasta Jepang 4 pabrik dengan pangsa ekspor 10,41% dan swasta dari negara lain 12 unit dengan pangsa ekspor 5,06%.

China merupakan negara tujuan utama ekspor karet Indonesia. “Perusahaan asing siap masuk untuk mengamankan pasokan bahan baku. Mereka akan all cost ,” katanya.

Adapun beberapa pendapat yang mengatakan bahwa untuk memperbaiki harga karet petani yang rendah perlu ditambah lagi pabrik crumb rubber, pendapat ini perlu diuji, karena harga karet ditentukan oleh pasar internasional, dan tak ada satu pabrikpun yang akan membeli karet diatas harga yang terjadi dipasar internasional. Penentuan harga internasional dipatok oleh pergerakan bursa SICOM/ Singapore Commodity Exchange dan bukan oleh eksportir Indonesia.