Suzuki
10 May, 2019

Jakarta – Setiap insan manusia ingin menjadi yang baik, maka sudah sewajarnya orang baik membeli produk-produk yang baik termasuk produk dari kelapa sawit.

Hal tersebut mengemuka dalam Diskusi Sawit Berkelanjutan dengan tema “Sustainable Palm Oil: Beli Yang Baik” di Jakarta.

“Jadi pembangunan berkelanjutan atau sustainability ialah pembangunan yang mewujudkan kebutuhan saat ini tanpa mengabaikan kemampuan generasi mendatang untuk mewujudkan kebutuhan mereka,” kata Direktur Badan Pengelola Dana Perkebunan Kelapa Sawit (BPDP-KS), Herdrajat Natawijaya.

Lebih lanjut, menurut Herdrajat, pembangunan berkelanjutan mempunyai tiga tujuan utama yaitu tujuan ekonomi (economic objective), tujuan ekologi (ecological objective) dan tujuan sosial (social objective). Maka dalam hal ini pembangunan kelapa sawit harus mengandung tiga unsur tersebut baru bisa dikatakan sustainable.

Sekedar catatan, Indonesia sendiri telah memiliki standar berkelanjutan yang mandatori seperti Indonesian Sustainable Palm Oil (ISPO) begi perkebunan kelapa sawit nasional. Menurut catatan Komisi ISPO per 27 Maret 2019, sudah ada 502 sertikasi ISPO yang dikeluarkan, dan setiap tahunnya terus bertambah ini menjadi pembuktian bahwa komitmen pelaku perkebunan kelapa sawit tidaklah main-main.

“Dari angka tersebut 502 sertifikat tersebut terdiri dari 493 perusahaan,5 koperasi swadaya,dan 4 KUD plasma dengan luas total areal areal 4.115.434 hektar. Adapun tanaman menghasilkan seluas 2.765.569 hektar dengan total produksi tandan buah segar (TBS) 52.209.749 ton pertahun th dan CPO 11.567.779 ton per tahun dan produktivitas 18,81 ton per hektar dan kadar rendemen rata-rata 22,23 persen,” urai Aziz Hidayat, Ketua Sekretariat Komisi ISPO.

Tak ketinggalan, peranan Roundtable on Sustainable Palm Oil (RSPO), sebagai organisasi nirlaba, juga mendukung keberadaan perdagangan minyak sawit berkelanjutan, supaya terus meningkat di pasar dunia. Berbagai aksi organisasi nirlaba ini, juga mendapat banyak dukungan dari para stakeholder bisnis minyak sawit global.
Lebih dari itu, menurut catatatan RSPO, minyak sawit berkelanjutan yang berhasil diproduksi dunia mencapai lebih dari 13 juta ton. Dimana, sebanyak 52% lebih, berasal dari produksi Indonesia. Tentunya, ini menjadi prestasi besar untuk Indonesia. Pasalnya, sebagai produsen terbesar CPO dunia, kini predikat terbesar produsen minyak sawit berkelanjutan, juga melekat kepada Indonesia.

“Sehingga, pengembangan usaha minyak sawit, tak hanya persoalan bisnis semata, namun keberadaan industri minyak sawit, telah menjadi bagian dari pembangunan nasional yang berkelanjutan. Para pelaku dunia usaha juga memiliki tujuan bersama guna menyejahterakan kehidupan rakyat Indonesia, yang selaras dengan kehidupan sosial masyarakat dan lingkungan sekitarnya,” papar Direktur RSPO Indonesia, Tiur Rumondang.

Sementara itu , Senior Managing Director Sinar Mas Agri, Agus Purnomo, mengakui keberadaan pelaku usaha minyak sawit, selalu melakukan banyak perbaikan guna menghasilkan minyak sawit berkelanjutan. Prinsip utaman tranparansi dan akuntabilitas juga telah diterapkan kepada mata rantai pemasok Tandan Buah Segar (TBS) yang diproses Pabrik Kelapa Sawit (PKS) milik perusahaan.

Terbukti, berbagai rencana aksi yang telah dilaksanakan dan direncanakan Sinar mas Agri dalam menghasilkan produksi minyak sawit berkelanjutan. Kendati tak mudah, namun Agus memiliki optimisme besar akan keberhasilan minyak sawit yang ramah lingkungan dan sosial. “Perusahaan terus melakukan pembenahan untuk menghasilkan minyak sawit berkelanjutan,” terang Agus.

Sebagai catatan, , berdasarkan data Kementan RI tahun 2018 lalu, keberadaan lahan perkebunan kelapa sawit nasional diperkirakan sekitar 14 juta hektar. dimana kepemilikan lahan perkebunan kelapa sawit sebesar 42% lebih, dimiliki petani kelapa sawit. Sebab itu, industri minyak sawit menjadi bagian dari pemerintah dalam mengentaskan kemiskinan dan mencapai tujuan pembangunan berkelanjutan dunia (SDGs).

Sedangkan menurut Sutainable Palm Oil Program Manager WWF Indonesia, Joko Sarjito kendati seringkali menuding dan menekan para produsen minyak sawit global dan nasional, namun keberadaan LSM juga dibutuhkan, sebagai bagian dari promosi gratis untuk mengenalkan minyak sawit bagi pasar global secara terus menerus.

Tapi keberadaan LSM juga turut membantu menyuarakan akan adanya produksi minyak sawit berkelanjutan yang sudah dilakukan produsen minyak sawit. Seperti LSM WWF Indonesia, yang memiliki program kampanye positif minyak sawit, juga sering menyuarakan kepada masyarakat luas supaya mau membeli minyak sawit yang baik.

“WWF Indonesia terus mendorong berbagai upaya perbaikan yang dilakukan untuk menghasilkan minyak sawit berkelanjutan,” pungkas Joko. YIN