Suzuki

Perkebunan adalah penghasil devisa terbesar. Dari nilai ekspor pertanian tahun 2017 sebesar USD33,05 miliar maka 96,36% atau USD31,8 miliar berasal dari perkebunan. Neraca ekspor impor pertanian selalu surplus karena perkebunan.
Hampir seluruh produk perkebunan untuk tujuan ekspor. Sayang perhatian pemerintah pada perkebunan masih rendah sekali. Meskipun penghasil devisa terbesar beberapa komoditas produksinya semakin menurun.

Saat ini hanya kelapa sawit saja yang menempati produsen nomor satu, itupun disebabkan karena luasnya terbesar di dunia. Karet meskipun paling luas di dunia tetapi produsen nomor 2 kalah produktivitas dari Thailand.

Kakao sudah menjadi produsen nomor 3, kopi nomor 4. Teh sudah menjauh dari produsen terbesar, tebu sudah lama jadi importir terbesar. Belum lagi rempah-rempah seperti lada, cengkeh, pala yang semakin turun baik luasan, produktivitas maupun pasar.

Dengan kondisi terbatas dan produksi jauh dibawah potensinya masih mampu menjadi penyumbang devisa. Apalagi kalau diperhatikan seperti tanaman pangan, maka perkebunan akan menjadi penghasil devisa berlipat-lipat dari sekarang.

Tanaman pangan disediakan anggaran besar untuk pengadaan benih, subsidi pupuk dan alat mesin pertanian. Riset tanaman pangan diperbesar sehingga selalu dihasilkan benih unggul baru, teknologi terbaru dan lain-lain. Tata niaga diatur sehingga petani mendapat keuntungan.

Hal ini berbeda jauh dengan perkebunan. Anggaran termasuk yang paling kecil sehingga sangat terbatas dalam melaksanakan berbagai kegiatan. Anggaran sawit ada di BPDPKS dan perlu diskusi panjang untuk melaksanakan kegiatan.

Riset perkebunan sekarang dalam kondisi memprihatinkan. Ada 6 lembaga riset perkebunan yang selama ini sangat membantu pembangunan perkebunan tetapi sekarang berada di bawah Kementerian BUMN sebagai anak usaha PTPN holding.

Dengan status sebagai perusahaan maka tolok ukur suksenya bukanlah output riset tetapi laba rugi. Lembaga penelitian dituntut mencari uang. Padahal ketika orang melamar di lembaga penelitian maka tujuan utamanya adalah untuk meneliti, bukan berdagang. Lain dengan orang yang berwirausaha , sejak awal memang targetnya mencari laba.

Kelapa sawit misalnya saat ini perkebunan rakyat semakin berkembang. Negara harus hadir memberikan inovasi terkini sehingga produktivitas semakin meningkat. Selama ini kebutuhan bibit rakyat banyak diberikan oleh PPKS (Pusat Penelitian Kelapa Sawit) yang memberikan diskon pada petani.

Beberapa perusahaan swasta besar juga punya divisi riset dan sudah sangat maju. Hanya risetnya untuk keperluan mereka sendiri bukan untuk petani. Negara harus hadir di PPKS sebagai lembaga riset untuk kepentingan petani.

Demikian juga untuk karet, kopi, kakao, teh, gula dan rempah-rempah. Negara harus hadir di setiap lembaga riset untuk menghasilkan benih unggul dan teknologi terkini bagi petani. Kakao yang produksi semakin menurun, kopi yang sedang marak, petani karet yang sedang terpuruk harus segera ditolong.

(GAMAL NASIR, PEMIMPIN UMUM MEDIA PERKEBUNAN/PERKEBUNANNEWS.COM)