3 October, 2019

BANDUNG, PERKEBUNANNEWS – Sudah bukan rahasia lagi, beberapa petani lesu disaat musim kemarau. Ini karena sebagian lahan dilit dilakukan budidaya. Tapi hal tersebut tidak berlaku bagi petani tembakau.

Hal tersebut diungkapkan oleh Suryana, Ketua Dewan Perwakilan Daerah (DPD) APTI Jabar saat ditemui perkebunannews.

Bahkan, Suryana membenarkan bahwa tembakau juga menjadi tanaman solusi bagi sebagian petani saat musim kemarau datang. “Sehingga dengan adanya tanaman tembakau ini, meskipun musim kemarau petani tetap tersenyum,” ucap Suryana.

Bahkan. Suryana membenarkan jika tembakau bukan hanya solusi disaat musim kemarau tapi juga pendongkrak ekonomi, salah satunya Provinsi Jawa Barat.

berdasarkan catatan Asosiasi Petani Tembakau Indonesia (APTI) Dewan Perwakilan Daerah (DPD) Jabar bahwa Jabar sendiri bisa menghasilkan 5 jenis produk industri hilir tembakau (IHT) dari 7 jenis IHT yang ada. Semuanya memiliki harga yang berbeda-beda, tapi tetap memiliki nilai ekonomi tidak kecil. Bahkan dalam satu hektar bisa menghasilkan jumlah berbeda-beda.

Contoh, pertama, untuk tembakau mole. Dalam satu hektar bisa menghasilkan antara 850 – 1.000 per hektar per musim. Harganya berkisar antara Rp 60 – 65 ribu per kilogram. Kedua, tembakau hitam. Biasanya dalam satu hektar bisa menghasilkan antara 1.200 – 1.400 kilo gram per musim. Harganya berkisar antara Rp 70 – 75 ribu per kilogram.

Ketiga, tembakau krosok. Biasanya dalam satu hektar bisa menghasilkan 1.800 – 2.200 kilogram per musim. Harganya Rp 22 – 30 ribu per kilogram. Keempat, tembakau sak atau rajang kasar. Biasanya dalam satu hektar bisa menghasilkan antara 1.600 –1.800 kilogram per musim. Harganya berkisar antara Rp 40 – 55 ribu per kilogram.

“Ini arinya meskipun musim kemarau datang, petani tembakau tetap mendapatkan pendapatan dari budidaya yang dilakukannya,” pungkas Suryana. YIN