Suzuki
28 December, 2018

Kolaka Utara – Jelang pergantian tahun, Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman melakukan gerakan revitalisasi kakao di Kabupaten Kolaka Utara, Provinsi Sulawesi Tenggara (Sultra). Kegiatan tersebut merupakan bagian dari upaya Kementerian Pertanian untuk mengembalikan kejayaan komoditas perkebunan Indonesia dengan membagikan bibit unggul gratis kepada petani.

Amran secara langsung memberikan bantuan benih unggul tanaman kakao sebanyak 1,5 juta batang untuk 1.500 hektar kepada kelompok tani di kolaka utara. Bantuan kakao tersebut merupakan terbesar di Sultra yang totalnya 3,8 juta batang untuk 3.785 hektar.

“Tidak ada cara lain, pertanian Indonesia harus meningkatkan produktivitasnya dengan bibit unggul. Karena itu kita anggarkan 5,5 triliun untuk perkebunan dan horti termasuk kakao, cengkeh, lada, kopi dan lain-lain untuk seluruh Indonesia,” kata Amran di Desa Kalahunde, Kecamatan Pakue Tengah, Kolaka Utara, Sultra.

Melalui pembagian benih unggul ini, Amran berharap, petani bisa terus berproduksi meningkatkan produktivitas, dan kualitas. Bila perlu prosesingnya ke depan ditangan para petani, sehingga nilai tambahnya bisa didapatkan. Harapannya, kesejahteraan petani bisa meningkat.

Seperti diketahui, Kolaka Utara pernah merasakan masa keemasan untuk tanaman kakao pada tahun 1997. Bahkan ketika krisis ekonomi tengah melanda, petani kakao sejahtera karena harganya juga terkerek naik. Namun, sejak maraknya hama penyakit tanaman di tahun 2000-an, kakao tidak lagi menjadi primadona buat petani. Tanaman juga sudah berumur tua dan tidak produktif lagi.

Terbukti, berdasarkan data Dinas Pertanian setempat menyebutkan, potensi kakao di Kolaka Utara mencapai 87 ribu hektare, dan 43 ribu harus segera direvitalisasi. Jika berhasil, maka akan bisa mengangkat kehidupan yang 80 persen masyatakatnya tergantung pada perkebunan kakao.

“Bibit Kakao Sambung Pucuk yang kita bagikan ini adalah yang terbaik dan sudah tersertifikasi. Produktivitasnya 3,5 ton per hektare, atau 7 kali lipat dari yang ada saat ini. Usia 10 bulan sudah berbunga dan 18 bulan sudah berbuah.

Ditempat yang sama, Bambang Direktur Jenderal Perkebunan Kementerian Pertanian mengingatkan, agar petani ber hati-hati memilih benih terutama perkebunan, karena jika salah kerugiannya bisa hingga 20 tahun.

“Jadi jika sampai salah menanam benih maka kerugiannya akan mencapai puluhan tahun, untuk itu belilah benih yang bersertifikat ditempat resmi. Jangan membeli benih disembarang tempat, diperiksalah dahulu benih yang akan dibeli apakah benih bersertifikat atau bukan,” pungkas Bambang. YIN