Suzuki
21 February, 2019

Jangan melihat jangka pendek untuk membangun komoditas perkebunan, karena membangun komoditas perkebunan berbeda dengan membangun komoditas tanaman semusim seperti tanaman pangan.

“Jadi untuk membangun (komoditas) perkebunan diperlukan nafas yang cukup panjang sehingga caranya pun berbeda dengan membangun komoditas lainnya,” kata Tungkot Sipayung, Direktur Eksekutif PASPI(Palm Oil Agribusiness Strategic Policy Institute).

Artinya, menurut Tungkot, jika ingin membangun perkebunan harus dilihat secara holistik (menyeluruh), dan itu memerlukan investasi yang cukup besar serta berkelanjutan. Sebab jka salah dalam membangun perkebunan atau dilakukan secara setengah-setengah maka dampak kerugiannya akan jauh lebih besar.

Melihat hal tersebut maka untuk membangun perkebunan harus dibuat road map jangka panjang, salah satunya pada sekotor perkebunan kelapa sawit. “Ini karena perkebunan adalah tanaman keras dan usia tanamannya cukup panjang,” tegas Tungkot yang juga akademisi dari Institut Pertanian Bogor (IPB).

Dalam hal ini maka, Tubgkot mengakui tidaklah heran jika untuk membangun sektor perkebunan kelapa sawit tahun 2045 sudah harus disusun road map-nya dari sekarang. Sehingga untuk membangun perkebunan dibutuhkan orang yang konsisten dan serius serta berpengalaman dibidangnya. Itu karena membengun perkebunan tidak bisa dilakukan dengan sekejap.

“Jadi dalam hal ini kebijakan yang dikeluarkan harus konsisten serta visioner minimal 25 tahun kedepan. Sebab usia tanaman perkebunan cukup panjang berbeda dengan tanaman lainnya,” himbau Tungkot.

Mendengar pernyataan tersebut, Bambang, Staf Ahli Menteri Pertanian Bidang Bio Industri mengakui bahwa untuk membangun perkebunan dibutuhkan kebijakan yang konsisten dan jangka panjang. Ini perlu dilakukan mengingat perkebunan sebagai pendapatan devisa terbesar.

“Atas dasar itulah perkebunan harus diselamatkan, apalagi komdotas perkebunan sevara umum sebagian besar dikuasai oleh masyarakat atau petani swadaya. Sehingga yang dibutuhkan tidak hanya bagi-bagi benih tapi juga mengedukasi petaninya mengingat perkebunan adalah tanaman tahunan” tutur Bambang.

Terbukti, berdasarkan catatan Badan Pusat Statistik (BPS) ekspor pertanian pada 2017 mencapai Rp 441 triliun, atau naik 24 persen dibandingkan 2016 yang hanya Rp 355 triliun. Dari angka tersebut, ekspor di komoditas perkebunan meningkat sebesar 26,5 persen atau dari US$ 25,5 miliyar atau Rp 341,7 triliun menjadi US$ 31,8 milyar USD atau menjadi 432,4 triliun.

Melihat pentingnya komoditas perkebunan sebagai penyangga ekonomi, Bambang berharap agar tetap mendukung dan mendidaklanjuti program-program dari Ditjen Perkebunan selaku Direktorat yang mengurusi komoditas perkebunan yang bagian dari Kementerian pertanian. YIN