Suzuki
11 March, 2019

Bandung – Sudah bukan rahasia bahwa komdotas penyumbang devisa negara terbesar, sehingga melindungi perkebunan sama saja dengan membangun berbagai potensi dan kekuatan yang dimiliki Indonesia.

“Artinya perlindungan terhadap perkebunan harus dapat tersedia dan berfungsi baik, sehingga berbagai risiko yang dihadapi dapat diminimalisir sedemikan rupa dan proses berproduksi dapat terlaksana dengan baik,” tegas Kasdi Subagyono Direktur Jenderal Perkebunan di Bandung.

Sehingga, menurut Kasdi, saat ini sangat diperlukan rumusan program dan kegiatan terkait penanganan organisme pengganggu tanaman (OPT), gangguan usaha perkebunan dan faktor iklim, dalam upaya melindungi komoditas perkebunan.

Salah satunya yaitu mendukung terselenggaranya program peremajaan sawit rakyat (PSR) dan pengembangan kelembagaan pekebun “Saya berharap jajaran perlindungan perkebunan dapat bersinergi dan memberikan kontribusi dan memberikan peran nyata dalam pelaksanaan program-program perkebunan,” himbau Kasdi.

Tidak hanya itu, Kasdi membenarkan, melindungi perkebunan juga bisa dengan meningkatkan atau memperbanyak sumber-sumber benih perkebunan untuk masyarakat. Hal ini mengingat sebagian besar tanaman perkebunan adalah tanaman rakyat meskipun sudah membuktikan sebagai penghasil devisa negara terbesar.

Dengan cara ini misalnya mau nanam di Kalimantan Barat tidak perlu mengambil benih dari Jawa. Program ini bekerjasama dengan Badan Penelitian dan Pengembangan (Balitbang) yang punya benih sumber untuk di jadikan benih sebar. Prinsipnya adalah membangun logistik benih.

“Sebab bagaimana mau mau mengembangkan kawasan perkebunan kalau tidak ada benihya,” kata Kasdi.

Tidak hanya memperbanyak sumber benih, Kasdi menjelaskan pihaknya juga akan meningkatkan kualitas benih. Sehingga pihaknya akan membangun kebun entres baru, blok penghasil tinggi baru sehingga siap memproduksi benih siap salur.

Harapannya, dalam 5 tahun di targetkan bisa menghasilkan 150 juta batang benih sehingga tiap tahun bisa menghasilkan 30 juta benih. Kalau kapasitas cukup maka target akan dinaikkan. Hal ini dilakukan supaya logistik benih ini berjalan baik.

“Jadi tahun 2019 ini, selain mengembalikan kejayaan rempah kita mempunyai tugas untuk memproduksi benih sebanyak 500 juta batang dari tahun 2019 sampai dengan 2024,member perhatian serius kepada karet,” tersang Kasdi.

Karet perlu diperhatikan serius, Kasdi menegaskan karena selama ini komoditas karet selalu berada pada level harga yang sangat rendah. Kondisi tersebut mengakibatkan petani merubah komoditas karetnya menjadi komoditas perkebunan lainnya. Bahkan menjadi komoditas tanaman pangan atau hortikultura.

Kondisi tersebut jika tidak disikapi dengan bijak, maka luas pertanaman karet akan semakin berkurang dan pendapatan petani pekebun karet akan semakin menurun. “Untuk mengatasi rendahnya harga karet tersebut, Pemerintah Indonesia bersama dengan pemerintah Malaysia dan Thailand telah melakukan pertemuan di Bangkok guna mengambil langkah-langkah konkrit penyelamatan harga karet,” tutur Kasdi.

Dari pertemuan tersebut, Kasdi mengatakan diperoleh tiga langkah yang akan ditempuh yaitu ketiga Negara bersepakat untuk mengurangi ekspor masing-masing 200 sampai dengan 300 ton per negara. “Sehingga semua negara meningkatkan konsumsi karet dalam negeri dan replanting,” pungkas Kasdi. YIN