Suzuki
29 November, 2018

Kami ingin maju seperti saudara-saudara kami petani plasma sawit di Sumatera. Kami pernah berkunjung ke petani plasma di Sumsel dan mereka sejahtera. Kami ingin seperti mereka tetapi LSM menghalang-halangi.

Demikian ungkapan hati dua putra daerah Merauke ketika berbincang-bicang dengan Perkebunannews.com. Mereka adalah Abraham Tiolmen, Ketua Koperasi Iskammekai dan Richard Nasai Koula, Ketua Koperasi Ingash Ghuzi, Merauke.

Menurut Abraham ada 19 marga di wilayahnya yang ingin maju dan sejahtera lewat sawit. Mereka menyerahkan tanah adatnya untuk dibangunkan kebun plasma oleh perusahaan inti. Tetapi LSM asing menganggu sehingga perusahaan tidak berani membangun kebun plasma.

“Kami sudah bertekad tidak ingin hidup seperti pendahulu kami yang tertinggal. Kami ingin sejajar dengan saudara kami di Indonesia. Tetapi pembangunan kebun plasma tidak jadi dilaksanakan gara-gara ulah LSM asing yang tidak ingin kami maju, yang lebih suka kami hidup tradisional,” katanya.

Menurut Abraham secara teknis mereka sangat mengerti soal kelapa sawit karena selama ini dipekerjakan di kebun inti. “Saya paham betul mulai dari pembibitan, perawatan tanaman sampai panen. Sekarang keinginan kami hanya satu saja yaitu punya kebun sendiri yang dibangun sebagai kebun plasma oleh inti,” katanya.

Menurut Richard, LSM hanya peduli lingkungan tetapi tidak peduli pada kehidupan masyarakat. Mereka ingin melihat masyarakat tetap tradisional dan tidak maju-maju. Richard pernah jadi juru kampanye sebuah LSM internasional dengan janji akan diberi uang cukup banyak. Tetapi setelah mendapat dana LSM itu ingkar janji. “Mereka memanfaatkan isu lingkungan di tempat kami untuk mendapatkan uang saja tetapi tidak peduli dengan kehidupan kami,” katanya.

Baik Richard maupun Abraham sampai saat ini masih terus berjuang ke mana-mana supaya cita-cita punya kebun sendiri tercapai.