2 September, 2019

Sumatera Selatan – Demi mendorong pertanian kearah yang jauh lebih baik lagi maka PT Sampoerna Agro Tbk (SGRO) mengeluarkan Laboratorium Terpadu (Integrated Laboratorium).

“Saya sangat miris ketika melihat laboratorium yang terpisah-pisah antara yang satu dengan yang lain. Tapi dengan mengintegrasikan labolatorium maka hasil riset akan lebih maksimal,” kata Dr. Dwi Asmono, Direktur PT Sampoerna Agro Tbk disela-sela peresmian Laboratorium Terpadu, kepada perkebunannews.com.

Lebih lanjut, menurut Dwi, dengan adanya Laboratorium Terpadu ini maka kualitas genetic benih sawit yang dikeluarkan oleh PT Bina Sawit Makmur (BSM) akan jauh lebih baik lagi.

Laboratorium Integrasi  memiliki tiga unit yaitu kimia analitik, mikrobiologi, dan DNA molekuler

Laboratorium Integrasi memiliki tiga unit yaitu kimia analitik, mikrobiologi, dan DNA molekuler

Sekedar catatan, bahwa BSM adalah anak perusahaan Sampoerna Agro yang konsen terhadap benih kelapa sawit unggul. BSM telah menghasilkan 12 varietas yang semuanya telah dilakukan screening terhadap penyakit ganoderma. Terlebih 12 varietas tersebut terdiri dari 6 varietas benih sawit DxP Sriwijaya dan 6 varietas benih sawit DxP Sriwijaya Semiklon. Semuanya telah dilakukan uji coba, hasilnya memuaskan baik petani ataupun industri.

“Gagasan membangun laboratorium ini sudah lama. Fasilitas laboratorium terintegrasi ini memiliki tiga unit yaitu kimia analitik, mikrobiologi, dan DNA molekuler,” ucap Dwi yang juga Ketua Forum Komunikasi Produsen Benih Kelapa Sawit Indonesia.

Bahkan, Dwi membenarkan Labolatorium Terpadu ini dapat dipergunakan juga untuk semua pihak yang ingin melakukan riset dan kegiatan komersial, termasuk jika akademisi yang ingin melakukan penelitian. Hal ini karena BSM sangat terbuka menjalin kerjasama guna menunjang kolaborasi dengan Universitas, serta membantu para planters, dan petani dalam rangka memberikan dukungan bagi tata kelola perkebunan yang terbaik dan berkelanjutan.

“Saya berharap dengan adanya Labolatorium Terpadu ini juga bisa mendukung operasional perusahaan yang beroperasi di Sumatera Selatan dan Kalimantan Barat,” harap Dwi.

Guna menciptakan labolatorium yang lebih baik lagi, Dwi mengakui, saat ini, laboratorium tersebut telah mengajukan proses akreditasi di Komite Akreditasi Nasional (KAN) untuk mendapatkan ISO/IEC 17025. YIN