Suzuki
19 February, 2019

Jombang – Saat ini trend kopi dan ngopi telah melekat menjadi gaya hidup dan peluang usaha masyarakat khususnya generasi anak muda jaman now, diantaranya provinsi Jawa Timur khususnya di Kabupaten Jombang.

Dalam rangka mempromosikan keunggulan kopi asal Wonosalam tersebut, maka akan diselenggarakan kegiatan dialog bersama masyarakat Wonosalam. “Melalui pertemuan ini, kita berharap kopi wonosalam bisa tampil dengan keunggulannya,” kata Hj. Mundjidah Wahab

Namun, Mundjidah mengingatkan, untuk mengembangkan kopi wonosalam, jangan sekedar menanam, tetapi menanam dengan cara budidaya yang benar.

“Saat panen dilakukan dengan cara yang benar termasuk pengolahan dan pemasarannya. Itu semua harus bisa dikelola dengan manajemen yang baik, mulai hulu sampai hilir, mulai budidaya sampai ke pemasaran. Dengan begitu akan memberi nilai tambah bagi para petani Wonosalam. Inilah yang dimaksud dengan Jombang yang berkarakter dan berdaya saing,” papar Mundjidah.

Ditempat yang sama, Direktur Perlindungan Perkebunan, Ditjen Perkebunan, Kementerian Pertanian, Dudi Gunadi menggambarkan bahwa situasi perkopian baik nasional maupun internasional saat ini lagi meningkat, sehingga mendorong akan permintaan kopi, Atas dasar itulah seharusnya budidaya kopi yang baik bisa memenuhi permintaan pasar saat ini.

“Saya optimisme terhadap prospek pengembangan kopi wonosalam. Ini karena apa yang telah dilakukan di Wonosalam, hasilnya yaitu hasil uji kualitas kopi wonosalam dan bersertifikat,” jelas Dudi.

Disisi lain, lanjut Sunoto Ketua Gapoktan Wonosalam menambahkan di wonosalam sendiri saat ini ada 9 kelompok tani kopi yang berada di 9 desa. Secara umum kondisi tanaman kopi berusia lebih dari 25 tahun, dengan varietas kopi robusta dan excelsa dan rata-rata prduksitivitas hanya 300 kg ose/ha dan dibudidayakan secara konvensional, kecuali poktan sumberarum yang telah melakukan budidaya secara organik.

Sejak tahun 2015 kelompok tani pihaknya dibina oleh BBPPTP Surabaya dalam kegiatan Desa Organik. Budidaya Kopi organik adalah budidaya yang tidak menggunakan pupuk kimia dan Pestisida Kimia sama sekali yang dapat membahayakan lingkungan serta organisme lain, dengan tujuan dapat menghasilkan kopi yang nikmat dan menyehatkan.

Pada awalnya memang berat tetapi tim dari Balai selalu membimbing dan mendampingi kami, kami telah dilatih untuk membuat Pestisida nabati, Metabolit Sekunder APH, Pupuk Organik, dikelompok tani kami juga terbiasa menggunakan pupuk cair yang bahan utamanya dari urin kambing.

“Namun kami juga kami dilatih tentang sistem pertanian organik, prinsip dipertanian organik ini adalah Tulis Apa yang kita Kerjakan, dan Kerjakan Apa yang kita Tuliskan, jadi kelompok tani kami selalu mencatat segala aktifitas mulai dari kebun, panen, hingga pemasaran,” tambah Suparno, Ketua Kelompok Sumberrum.

Disisi lain, Suparno mengungkapkan pihaknya telah diberi bantuan dari Kementrian Pertanian berupa kandang ternak, ternak, alat pertanian, alat laboratorium kecil, alat pasca panen kopi, unit pengolahan pupuk organik (UPPO) dan kendaraan roda 3.

“Alhamdulilah kami dari anggota poktan sumberarum sudah bisa menghasilkan produk kopi bubuk, peralatan pacsa panen kopi berasal dari bantuan BBPPTP surabaya,” terang Suwito, anggota Kelompok Sumberrum.

Sehingga, Suwito berharap ada beberapa usulan diantaranya kepada dinas terkait agar dibuat nama merk kopi untuk produk kopi dari Jombang khususnya Wonosalam. Contohnya Kabupaten yang punya merk Kapiten (Kopi Aslikabupaten Pasuruan), Lumajang punya Kolesem (Kopi Lemongan Semeru).

“Kita berharap jika ada pameran-pameran kopi bisa diikut sertakan untuk mengenalkan kopi dari daerah kami sehingga bisa memperluas pasar,” Suwito. YIN