Suzuki
28 August, 2018

Kerjasama adalah kerjasama yang menguntungkan antara kedua belah pihak, termasuk kerjasama antara petani. Atas dasar itulah diperlukan koperasi untuk menjembatani keinginan perusahaan dengan petani.

Suka tidak suka harus diakui, bahwa kemitraan antara perusahaan dengan petani akan berjalan dengan baik jika kedua belah pihak tidak ada yang dirugikan baik petani ataupun perusahaan, diantaranya kemitraan pada komoditas kelapa sawit.

Seperti diketahui berdasarkan UU Perkebunan pasal 58 tentang Kemitraan Usaha Perkebunan ayat 1 menegaskan perusahaan perkebunan yang memiliki izin usaha perkebunan (IUP) wajib memfasilitasi pembangunan kebun masyarakat paling rendah seluas 20 persen dari total luas areal kebun yang diusahakan perusahaan perkebunan.

Kemudian kemitraan tersebut juga diperkuat dalam Peraturan Menteri Pertanian (Permentan) nomor 98 tahun 2013 bahwa perusahaan wajib untuk membangun kebun masyarakat di sekitarnya, dimana areal yang dibangun untuk masyarakat seluas dari 20 persen ijin lokasi perusahaan.

Berangkat dari sanalah maka harus ada penyambung lidah antara perusahaan sebagai bapak angkat dari petani sebagai pemasok bahan baku industri dalam hal ini perusahaan. ”Jadi adanya koperasi ditingkat petani sangatlah penting karena bisa menghubungkan keinginan kita selaku petani juga keinginan perusahaan selaku pengolah hasil petani,” kata Masduki, Ketua Koperasi Unit Desa (KUD) Lestari Jaya, kepada perkebunannews.

Lebih lanjut, menurut Masduki, agar masalah-masalah ditingkat petani bisa terurai maka dibuatlah forum KUD yang terdiri dari beberapa KUD. Diantaranya seperti Forum KUD Sebuana yang terdiri dari 8 KUD yang semuanya bermitra dengan Sinar Mas group, yang juga bergerak dibidang industri kelapa sawit.

“Sehingga memang latar belakang beridirnya forum ini untuk menjembatani persoalan antar KUD. Jadi terjadi antar sesuatu dimusyawarahkan antar forum tersebut,” kata Masduki yang juga sebagai Sekretaris Forum KUD Sebuana.

Hasil panen petani bisa untuk membangun tempat ibadah

Diantaranya, Masduki menerangkan seperti masalah antrian truk pengangkut tandan buah segar (TBS) dari petani. Dahulu pernah terjadi Masalah antrian truk ke pabrik kelapa sawit (PKS) yang tidak sesuai aturan.

Kemudian KUD mengajukan masalah tersebut ke perusahaan selaku bapak angkat dari petani plasma menganai tidak sesuai aturan.

Maksudnya ada truk yang mengangkut TBS milik petani plasma dan non plasma, tapi yang terjadi dilapangan tidak sesuai. Akhirnya maslah tersebut diajukan ke perusahaan yang akhirnya petani plasma diprioritaskan duluan karena kita petani plasma sebagai mitra dari perusahaan,” terang Masduki.

Kemudian, lanjut Masduki masalah grading (sortasi TBS) atau aturan buah mentah yang harus ada seululuh butir brondolan. Tapi permasalahnnya adalah petani terkadang tidak bisa melihat berapa brondolan yang nampak (terlihat-red). Sebab petani meanen buah di pagi hari atau bahkan terkadang saat kondisi hujan.

“Misalnya harus ada 6-7 persen brondolannya dari total (TBS) yang disetorkan. Sebab kalau tidak sampai 7 persen brondolannya dari total TBS yang disetorkan maka harga tidak seperti harga yang biasanya. Maka hal tersebut kita mesyawarahkan dengan para anggota melalui KUD. Hasilnya, hasilnya kami harus memanen sesuai aturan,” ucap Masduki

Disisi lain, Masduki mengakui, dengan menjadi petani kelapa sawit melalui program Perkebunan Inti Rakyat (PIR) di tahun 1993, kehidupan ekonominya kni telah berubah.

“Terbukti, dahulu sewaktu di Lampung tidak mempunyai rumah yang layak apalagi kendaraan pribadi. Tapi setelah menjadi petani PIR bukan hanya mempunyai rumah tinggal yang layak huni serta kendaraan pribadi tapi juga kini bisa menyekolahkan anaknya bahkan hingga kuliah di daerah Jawa,” papar Masduki yang berasal dari Lampung.

Atas dasar itulah, Masduki mengakui saat ini kebun miliknya sudah lunas sejak tahun 2005 kemarin. Meskipun memang waktu pertama kali datang sudah ada lahan dan bibitnya dari perushaan, dan saat ini memang usinya sudah 25 tahun, tapi memang produktivitasnya masih cukup tinggi. Ini karena pola budidaya yang dilakukannya sesuai dengan good agriculture practices (GAP) dan dahulu menggunakan benih bersrtifikat bukan benih asalan.

Berbeda dengan Masduki, Sumino Sekretaris KUD Budi Karya yang datang ke Desa Tandan Sari, Kecamatan Tapung Ilir, Kabupaten Kampar, Provinsi Riau sebagai petani PIR tapi sudah ada tanamannya usia 3-4 tahun. Tidak menanam dari awal, tinggal merawat dan membesarkan (membudidayakannya-red).

“Sehingga dengan usia tanaman tersebut sudah bisa memanen, meskipun baru buah pasir,” kata Sumino yang menjadi petani PIR di akhir tahun 1996.

Menurut Sumino, keinginannya menjadi petani kelapa sawit dilahan sendiri karena dilihatnya komoditas kelapa sawit lebih menjanjikan. Memang dahulu di Sumatera Utara, pernah menjadi petani kelapa sawit, tapi disana hanya sebagai buruh tani.

Berbeda kondisinya saat menjadi petani PIR ini, meskipun hanya memiiki lahan 2,5 hektar tapi lahan tersebut adalah lahan milik pribadi atau sendiri. Sehingga hasil panen bisa untuk merubah kehidupan ekonominya.

Disisi lain, dipilihnya menjadi petani kelapa sawit, meskipun pada tanaman kelapa sawit ada musim trek tapi tidak separah menjadi petani padi. Artinya menjadi petani kelapa sawit jauh lebih baik.

Sebelumnya, tahun 2008 juga pernah mengalami penurunan harga tapi sedikit demi sedikit sudah mulai naik. Ini artinya karena komoditas kelapa sawit adalah komoditas ekspor dan bahan baku industri jadi sampai saat ini pasar masih terbuka.

“Jadi kelapa sawit ini kan dibiratkan gadis cantik. Banyak yang ingin memiliki, termasuk saya ingin memiliki dan ALHAMDULILLAH cukup untuk mencukupi kebutuhan kami,” jelas Sumino.

Alhasil, Sumino mengakui dengan harga TBS ditingkat petani plasma yang cenderung stabil maka tahun 2002 pun lahan seluas 2,5 hetar telah lunas. Artinya memang menjadi petani kelapa sawit bisa lebih meningkatkan ekonomi beli.

Bahkan dari keuntungan bertani kelapa sawit juga disisihkan untuk membeli lahan yang juga kelapa sawit yang telah ditinggalkan oleh orang lain. Kini ketiga anaknya pun bisa sekolah hingga perguruan tinggi. Anak pertama lulus kuliah di Universitas Riau, anak kedua lulus SMA dan anak etrakhir masuk SMP.

“Memang ada rencana untuk membeli lahan kelapa sawit, tapi harus dipikirkan lagi. Selain tidak boleh membeli sembarang lahan juga saat ini sedang mendahulukan kemepntingan yang utama dahulu. Diantaranya untuk biaya pendidikan anak-anak,” terang Sumino.

Disisi lain, Sumino mengakui, bahwa saat ini kebun miliknya sebagian sudah banyak yang tua. Sehingga dengan usia tanaman kelapa sawit yang sudah tua, sudah waktunya untuk diremajakan. Bahkan sudah ada gambaran atau rencana dari pihka perusahaan inti dalam hal ini Sinar Mas untuk melakukan peremajaan.

“Jadi gambarannya tahun 2023 ada rencana untuk melakukan peremajaan. Sebab untuk penanaman pertama yaitu tahun 90 perusahaan merencanakan peremajaan tahun 2019 tapi mundurlagi. Maka kemungkinan tahun 2023 barulah peremajaan untuk daerah kebun kita,” harap Sumino.

Tapi, Sumino berharap untuk peremajaannya koperasi mengingnkan dilakukan sendiri. Sebab dengan begitu koperasi bisa mengatur keunganan sesuai dengan kebutuhannya.
Terbukti, dengan pengalaman sebagai petani plasma, beberapa KUD di wilayah Riau sudah ada yang berhasil dalam melakukan peremajaan secara mandiri melalui pola GAP serta benih bersertifikat dan hasilnya cukup baik dengan produktivitas yang tidak kalah tinggi dari tanaman generasi pertama.

“Memang masalah peremajaan saat ini sedang kita bicarakan bersama tema-tema petani dan juga pihak perusahaan,” ucap Sumino. Namun, Sumino mengakui, “dengan tergabung dalam koperasi maka semua permasalahan bisa diselesaikan, termasuk perusahaan.” YIN