Suzuki
1 February, 2019

Bogor – Mungkin sebagian orang sudah tidak asing lagi mendengar kalimat “mens sana in corpore sano.” Kalimat tersebut mengungkapkan bahwa pentingnya tubuh yang kuat agar tercpta jiwa yang sehat. Belajar dari kalimat tersebutlah yang seharusnya dilakukan oleh petani agar bisa menciptakan petani yang sehat. Caranya yaitu dengan miciptakan kelembagaan petani yang kuat melalui koperasi.

“Sebab melalui koperasilah maka aspek pemasaran posisi petani sawit masih belum optimal yang mengakibatkan petani kelapa sawit memiliki posisi tawar yang lemah dalam penentuan harga,” kata Teguh Wahyudi, Direktur Utama PT Riset Perkebunan Nusantara dalam forum group discussion (FGD), di Bogor.

Namun, Teguh menyayangkan, keanggotaan petani dalam kelembagaan ekonomi (produksi atau pemasaran) di pedesaan baru sekitar 17,4 – 36,7 persen.

Padahal, kelembagaan ekonomi petani inilah yang dapat membantu petani kelapa sawit dalam meningkatkan produktivitas, kualitas hasil kebun serta harga produk yang diperoleh. Oleh karena itu sangat diharapkan sekali adanya pembentukan dan penguatan koperasi melalui pemberdayaan petani kelapa sawit untuk mendukung industri sawit yang berkelanjutan.

“Sebab itu sesuai dengan kenyataan di lapang dan kebutuhan masa depan industri sawit nasional untuk mendukung pencapaian Sustainable Development Goals,” harap Teguh.

Lebih dari itu, Teguh mengakui bahwa melalui penguatan koperasi tidak hanya dapat menjalankan Good Corporate Governance (GCG), tapi juga menciptakan hubungan kemitraan yang sehat antara petani dan perusahaan.

“Jadi penguatan kelembagaan ekonomi petani seperti koperasi merupakan salah satu kunci strategis untuk mengatasi permasalah dalam perkebunan ataupun peremajaan sawit rakyat (PSR),” terang Teguh. Berita selengkapnya ada pada Media Perkebunan Edisi 183/Februari/2019