15 April, 2019

Demi menggenjot biodiesel 100 persen (B100) Kementerian Pertanian (Kementan) melaunching uji coba perdana B100. Uji coba ini digelar untuk menjawab tantangan global terhadap energi terbarukan melalui penggunaan bahan pertanian.

“Inilah energi masa depan kita dan dunia dalam menjawab kebutuhan masyarakat di era mendatang,” kata Menteri Pertanian (Mentan) Andi Amran Sulaiman.

lebih lanjut, Amran menjelaskan, pengembangan energi terbarukan menjadi keniscayaan untuk memenuhi kebutuhan lokal dan internasional. Karena itu, perlu adanya sumber energi pengganti bahan bakar fosil seperti biodiesel yang harus dikembangkan.

Produksi biodiesel B20 pada tahun 2018 mencapai kurang lebih 6,01 juta kiloliter. Jumlah tersebut meningkat tajam jika dibanding tahun sebelumnya yang hanya 3,30 kilometer.

Tapi, perkembangan biodiesel ini masuk pada pembahasan isu strategis di belahan dunia manapun. Dalam hal ini, posisi Indonesia sukses mengembangkan B20 yang disusul dengan B30. Selanjutnya Indonesia berhasil meracik bahan bakar tadi menjadi B100.

“Sementara Malaysia saja baru bisa meracik sampai titik B7 menuju B10. Tentu ini prestasi yang luar biasa bagi bangsa kita. Apalagi, penggunaan biodiesel B100 ini juga mampu menghemat devisa dan efisiensi solar,” kata Amran.

Seperti yang tertera pada data Kementerian ESDM, Amran menyebutkan, kebutuhan solar nasional mencapai 31,19. Sementara produksi solar dalam negeri mencapai 20,8 juta. Maka Indonesia masih membutuhkan impor solar sebanyak 10,89 juta kiloliter atau setara Rp 157,44 triliun.

“Untuk menutupi impor solar, kita membutuhkan produksi biodiesel B100 sebanyak 14,14 juta kiloliter atau setara Rp 115,38 triliun. Artinya, kalau kita bisa menutupi kebutuhan impor solar dengan pengembangan biodiesel ini, maka ada penghematan mencapai kurang lebih 42 triliun rupiah per tahun,” kata Amran.

Seperti diketahui bersama, Amran mengakui bahan dasar energi ini merupakan minyak sawit kasar atau Crude Palm Oil (CPO). Produksi CPO sendiri saat ini mencapai 41,6 juta ton. Sedangkan ekspor CPO mencapai kurang lebih 34 juta ton atau setara Rp 270 triliun.

Adapun biodiesel B100 ini adalah bahan bakar yang digunakan secara langsung pada mesin diesel tanpa dicampur dengan minyak fosil. “Kementan sendiri sudah melakukan berbagai upaya bahkan berhasil membuat reaktor biodiesel multifungsi generasi ke-7 yang mampu mengolah 1.600 liter bahan baku per hari,” terang Amran.

Ini penting, karena menurut Amran, penggunaan biodiesel ini lebih efisien dibandingkan dengan penggunaan solar. Hal itu sudah dibuktikan dengan uji transportasi yang dilakukan Badan Litbang Pertanian. Dalam pengujian tersebut, satu liter biodiesel ternyata mampu menempuh jarak 13,1 km. Sementara solar hanya 9,6 km dan efisiensi mencapai 136,4 persen, sehingga upaya konversi solar ke biodiesel sangat diperlukan.

Selain itu, tingkat emisi biodiesel ini relatif rendah bila dibandingkan bahan bakar solar. Sebagai contoh, karbonmonoksida (CO) biodiesel B100 lebih rendah 48% dibanding solar.

Kesimpulannya adalah, bahwa pengembangan B100 ini sangat berdampak pada meningkatnya kesejahteraan petani kebun sawit. Kemudian bisa menghemat devisa, menghemat bahan bakar fosil, menghemat energi, memitigasi tindakan diskriminasi Uni Eropa dan yang pasti menciptakan peluang pasar baru.

“Tentu saja kita berharap soft launching ini menjadi tonggak sejarah bagi bangsa kita untuk memasuki era B100 yang lebih massal di masa yang akan datang,” pungkas Amran. YIN