21 November, 2019

JAKARTA, Perkebunannews.com – Kementerian Pertanian mendorong produksi tembakau dalam negeri untuk penyediaan bahan baku industri rokok nasional. Hal ini juga sebagai upaya mengurangi defisit neraca perdagangan. Karena impor tembakau mencapai Rp 22 triliun.

Demikian dikatakan Direktur Tanaman Semusim dan Rempah, Direktorat Jenderal Perkebunan, Kementerian Pertanian, Agus Wahyudi, dalam diskusi publik di Jakarta, Rabu (20/11). Diskusi bertema “Masa Depan Industri Hasil Tembakau di Bawah Ancaman FCTC” itu menghadirkan antara lain Kementerian Perindustrian, Ketua Asosiasi Petani Tembakau Indonesia Suseno, Ketua Aliansi Masyarakat Tembakau Indonesia (AMTI) Budidoyo, Sekretaris Jenderal Asosiasi Petani Cengkeh Indonesia Ketut Budiman.

Agus menyebutkan, produksi tembakau nasional tahun 2018 – 2019 berkisar antara 182 ribu ton. Sedangkan kebutuhan tembakau dalam negeri sebesar 320 ribu ton. “Jadi gapnya cukup besar. Ada 140 ribu ton,” ujarnya.

Selama ini kekurangan bahan baku untuk industry ditutup impor. “Perlu diketahui impor tembakau kita mencapai berkisar Rp 18 – 22 triliun. Jadi kalau ini bisa disubstitusi katakanlah burley dan oriental 40 persen dari 140 ribu ton. Sisanya sekitar 100 ribu ton itu bisa disubtitusi dari produksi dalam negeri,” jelas Agus.

Program Kementan sendiri hanya menyediakan bahan baku dalam negeri sekaligus melakukan subsitusi impor terhadap tembakau. “Jadi kita tidak mengembangkan. Tapi kita hanya mendorong produksi dalam negeri sebagai substitusi impor,” ujar Agus.

Agus mengatakan, setidaknya ada tiga jenis tembakau yang selama ini masih diimpor antara lain, tembakau virginia, burley, dan oriental. Dari ketiga jenis tersebut tembakau virginia mempunyai komposisi yang paling besar mencapai 60 persen.

Meski begitu, tambah Agus, tembakau Virginia saat ini sudah bisa diproduksi di dalam negeri antara lain di NTB, Bali, Jawa Timur. Sedangkan tembakau burley dan oriental produksinya sangat terbatas. (YR)