Suzuki
13 December, 2017

Permintaan bibit kakao BL50 terus meningkat dari waktu ke waktu. Tak kurang dalam sebulan permintaan benih kakao dari Lima Puluh Kota itu mencapai 10 ribu batang. Bahkan, Edi Syafianto selaku pemilik varietas kakao unggul itu kewalahan memenuhi permintaan dari berbagai daerah baik dari Sumatera Barat maupun dari provinsi lain. Maklum kakao BL50 mampu memproduksi hingga 4 ton per hektar (Ha).

Keberadaan klon BL50 sendiri diawali dengan observasi Dinas Tanaman Pangan, Hortikultura dan Perkebunan Kabupaten Lima Puluh Kota Pada 2013 – 2015. Dari hasil sambung samping yanga ada terpilih klon kakao milik Edi Syafianto. Karena klon tersebut mampu emproduksi buah yang tinggi dengan rata-rata 4,5 ton/Ha. Hasil ini lebih tinggi dibandingkan klon kakao MCC 01 dan MCC 02 dari Sulawesi.

Biji kakao BL50 memiliki berat sebesar 1,33 gram. Dari segi mutu fisik biji kakao klon BL50 termasuk klasifikasi AA karena guna mencapai 100 gram hanya memerlukan 71,43 biji. Sedangkan klon kakao BL50 jumlah bijinya rata-rata 49,58 biji per buah. Nilai buah klon BL50 rata-rata sebesar 15,21, kadar lemak sebesar 44 persen.

Klon kakao BL50 memiliki percabangan agak tegak horisontal dengan laju pertumbuhan cabang yang cepat. Permukaan kulit cabangnya halus dan warna kulit cabang cokelat. Bentuk daun jorong, warna pucuk merah, daun muda berwarna hijau muda, dan duan tua berwarna hijau tua mengkilat. Tekstur permukaan daun kasar dan agak bergelombang.

Berdasarkan hasil pengamatan di lapangan, klon BL50 ini menunjukkan bahwa persentase serangan penggerek buah kakao (PBK) hanya 0,46 persen. Intensitas serangan dan tingkat kerusakan buah tergolong ringan.

Sedangkan ketahanan terhadap penyakit busuk buah, dari hasil pengamatan menunjukkan keparahan penyakit sebesar 9,36 persen. Jumlah itu termasuk kategori tahan. Sementara untuk penyakit pembuluh kayu (VSD), BL50 menunjukan tingkat keparahan mencapai 41,66 persen sehingga termasuk agak tahan.

Klon BL50 pernah mendapat juara kedua dalam lomba klon kakao unggul nasional yang diselenggarakan Pusat Penelitian Kopi dan Kakao Indonesia di Sumatera Barat pada 2012. Klon ini juga pernah mendapat penghargaan pada International Cocoa Award di Jakarta pada 2014 karena dinilai termasuk ke dalam 50 besar jenis kakao dunia yang memiliki citarasa terbaik. (YR)