8 August, 2019

Jakarta – Berbagai tuduhan terus dilontarkan terhadap minyak emas atau komoditas kelapa sawit. Menanggapi hal tersebut maka pelaku usaha harus membuktikannya bahwa tuduhan-tuduhan tersebut tidaklah benar, salah satunya dengan pola sustainability seperti sertifikat Indonesia Sustainable Palm Oil (ISPO).

Hal tersebut mengemuka dalam acara FGD Sawit Berkelanjutan: Diskusi Sawit Bagi Negeri Vol 3 dengan tema “Peluang Pasar Sawit Berkelanjutan Indonesia” yang diadakan majalah InfoSAWIT.

Seperti diketaui berdasarkan data Komisi ISPO per Maret 2019 bahwa ISPO bahwa sudah ada 502 sertifikat ISPO yang dikeluarkan. Dari angka terseut ada 493 perusahaan,5 koperasi swadaya,dan 4 KUD plasma dengan luas total areal areal 4.115.434 hektar.

Adapun tanaman menghasilkan seluas 2.765.569 hektar dengan total produksi tandan buah segar (TBS) 52.209.749 ton pertahun th dan CPO 11.567.779 ton per tahun dan produktivitas 18,81 ton per hektar dan kadar rendemen rata-rata 22,23 persen.

“Terus bertambahnya jumlah sertifikat ISPO ini menjadi bukti bahwa pelaku usaha sudah sadar akan pentingnya sustainability. Jadi jangan sembarang menuduh,” kata Aziz Hidayat, Ketua Sekretariat ISPO

Sementara itu, Agus Purnomo Managing Director Sustaiability and Strategic Stakeholder Engagement Golden Agri Resources Ltd, mengatakan tekanan terhadap sektor perkebunan kelapa sawit bisa dibagi dalam tiga kelompok, pertama dari pemerintah para konsumen minyak sawit salah satunya berupa muculnya kebijakan RED II dari Uni Eropa serta hambatan dagang lainnya.

Lantas dari Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) berupa isu deforestasi, hak asasi manusia dan sosial serta limbah. “Kelompok ketiga datang dari koknsumen berupa isu kesehatan yang kembali dihembuskan,” katanya.

Lebih lanjut kata Agus, namun demikian di beberapa negara mulai muncul kesadaran dalam memproduksi minyak sawit berkelanjutan, seperti inisiasi yang dilakukan India dengan Sustainable Palm Oil Coalition for India (India-SPOC) dan Jepang.

Kondisi demikian membuka peluang dalam pemasaran minyak sawit berkelanjutan, dengan potensi itu kata Agus, pihaknya untuk terus memproduksi komoditas sawit yang berkelanjutan.

Cara yang dilakukan dengan pendekatan bantuan teknis dan insentif keuangan, untuk program peremajaan kebun sawit yang dikelola petani swadaya. “Kami mendukung misi pemerintah Indonesia untuk meremajakan 200,000 ha lahan perkebunan rakyat,” pungkas Agus. YIN