18 November, 2019

Indonesia sebagai negara dengan luas kebun kelapa terbesar di dunia mempunyai sabut kelapa yang luar biasa melimpah. Permintaan luar negeri untuk olahan sabut kelapa yaitu coco peat dan coco fiber juga besar.

“Sayangnya tidak semua lokasi yang ada sabut kelapa dalam jumlah besar bisa diolah dan diekspor. Buruknya kondisi infrastruktur membuat pengolahan sabut kelapa di daerah-daerah tertentu menjadi terlalu mahal dan tidak mampu bersaing. Biaya produksinya jauh lebih tinggi daripada harga ekspor,” kata Efli Ramli, Ketua Asosiasi Sabut Kelapa Indonesia kepada Perkebunannews.com

Hanya di daerah tertentu saja yang dekat pelabuhan ekspor, sabut kelapanya bisa diolah. Daerah itu adalah sekitar Sumatera Utara, Sumatera Selatan, Lampung dan Sumatera Barat dengan pelabuhan ekspor Panjang, Lampung.

Daerah Banten dan Jawa Barat yaitu Ciamis, Pangandaran, Banjar dengan pelabuhan ekspor Tanjung Priok, Jakarta. Jawa Tengah yaitu Kebumen, Banjarnegara dan Purworejo dengan pelabuhan ekspor Tanjung Mas, Semarang.

Kemudian Jawa Timur, Bali dan sedikit Kalimantan dengan pelabuhan ekspor Tanjung Perak, Surabaya. “Di Indonesia Timur kita tidak bisa mengolah sabut sebab biaya ekspornya sangat tinggi sekali. Olahan sabut harus di bawa ke salah satu dari lima pelabuhan ini dengan biaya yang sangat besar. Karena itu industri sabut kelapa hanya berkembang di daerah-daerah dekat pelabuhan ekspor,” kata Efli lagi.

Indonesia hanya mampu memenuhi kebutuhan 3% saja dari total permintaan sabut kelapa dunia. Sisanya 97% dibagi antara Filipina, India dan Vietnam.

“Tiga negara ini sangat dominan menguasai pasar sabut kelapa padahal produksi kelapa kita yang paling besar. Tiap tahun 15 miliar butir kelapa di hasilkan Indonesia, tetapi hanya mampu mengekspor sabut kelapa 5.000 ton saja/tahun padahal permintaannya sangat besar,” katanya.

Dengan kondisi seperti sekarang maka sabut kelapa yang nilainya Rp8,7 triliun hanya dibuang dan dibakar saja. Padahal kalau mau digarap bisa menghasilkan devisa 40 kali lipat dari sekarang yang mencapai USD15 juta.

Banyak yang meminta sabut kelapa Indonesia tetapi tidak bisa dipenuhi. Karena itu Efli menyambut baik program Presiden Jokowi yang memprioritaskan pembangunan infrastruktur.