Suzuki
19 March, 2019

Kabupaten Kerinci, terutama di Kecamatan Kayu Aro, Kayu Aro Barat , dan Gunung Tujuh terletak di dataran tinggi dengan ketinggian 1500 m. Demikian juga Kotamadya Sungai Penuh punya lereng-lereng pegunungan yang belum dimanfaatkan optimal.

Dengan kondisi geografis yang demikian maka penduduk banyak yang menanam kopi arabika. Menurut Efzawardi, Kepala Dinas Perkebunan dan Peternakan Kabupaten Kerinci , Kabupaten ini merupakan penghasil kopi terbesar di Jambi, sedang untuk kayu manis 70% produksi nasional berasal dari Kerinci.

Luas kebun kopi arabika 1.800 ha dengan ketinggian diatas 100m diatas permukaan laut, sedang kopi robusta 6.000 ha pada daerah dengan ketinggian dibawah 1000 m diatas permukaan laut. Kopi arabika sudah mendapat sertifikat Indikasi Geografis dengan nama Kopi Arabika Sumatera Koerintji tahun 2017. Selain itu kayu manis juga sudah mendapat IG kayu manis tahun 2016.
.
“Pengaruh IG pada kopi sangat jelas. Untuk mendapatkan IG ada Standar Operasional Prosedur (SOP) yang harus diikuti. Pembeli dari luar negeri sangat memperhatikan standar ini. Harga kopi yang bersertfikat IG jauh lebih tinggi dari yang tidak. IG ini dihimpun dibawah Masyarakat Perlindungan Indikasi Geografis (MPIG) Kerinci meliputi Kecamatan Kayu Aro, Kayu Aro Barat dan Gunung Tujuh,” katanya.

Kopi IG ini sudah diekspor langsung ke Australia dan Amerika Serikat. Pembeli yang datang langsung ke Kerinci untuk melihat prosesnya. Ekspor dalam bentuk green bean.

MPIG sangat ketat sekali memberlakukan SOP sehingga mutunya sangat terjaga. Petani menjual dalam bentuk cherry ke MPIG, kemudian disortir oleh koperasi. Kopi yang tidak memenuhi standar dibuang. Hanya yang memenuhi standar saja yang diolah jadi green bean, sehingga benar-benar terjaga.

MPIG mengekspor dalam bentuk green bean. Sedang pengolahan lebih lanjut seperti roasting dan kopi bubuk hanya untuk keperluan promosi saja dalam jumlah kecil. MPIG sering mengikuti pameran baik di dalam maupun luar negeri.