24 October, 2019

Jakarta, Perkebunannews.com – Kakao, disamping untuk diekspor, di dalam negeri digunakan untuk berbagai produk olahan makanan dan minuman. Permintaan ekspor dan kebutuhan dalam negeri cukup besar, namun produktivitas kakao Indonesia masih rendah yaitu sekitar 0,8 ton per-hektar, padahal potensi produksi bisa 2,5 ton per hektar per tahun.

“Melalui HPS 2019, kita akan gerakan peningkatan produksi dan pengolahan produk kakao melalui industri rumah tangga dan kelompok tani. Industri pengolahan biji kakao menjadi permen coklat akan ditampilkan pada acara puncak Hari Pangan Sedunia (HPS) 2019 di Desa Puudambu”, ungkap Prihasto, Ketua Pelaksana HPS 2019.

Tidak hanya itu, menurut Prihasto, sagu telah lama menjadi sumber karbohidrat masyarakat di beberapa wilayah Indonesia, sehingga komoditas ini dapat mengatasi ketahanan pangan nasional.

Dengan luas areal sagu 500 ribu hektar, dan tahan terhadap perubahan iklim, Indonesia mempunyai peluang menjadi pelopor dalam modernisasi industri pengolahan sagu. Selain itu, pemanfaatan potensi sagu yang begitu besar akan menguntungkan Indonesia. “Oleh sebab itu, untuk pengembangan sagu nasional perlu dukungan dan kerjasama pemerintah, swasta dan masyarakat setempat,” ucap Prihasto.

Artinya, Prihasto mengingatkan agar masyarakat dunia dalam bisa mengelola pangan dengan baik supaya cukup tersedia untuk mengatasi kelaparan dan kurang pangan. Hal ini sesuai dengan tema internasional HPS ke 39 tahun 2019, “Our Actions Are Our Future,”

“Ini mengingatkan kita untuk melakukan tindakan menghilangkan kelaparan di dunia ZeroHunger World,” ucap Prihasto.

Sekedar catatan Indonesia akan merayakan HPS-2019 di Kendari, Sulawesi Tenggara, tanggal 2-5 November 2019, dengan acara puncak di Desa Puudambu, Kec.Angata, Kab.Konawe Selatan tanggal 2 November 2019 dengan tema Teknologi Industri Pertanian dan Pangan Menuju Indonesia Lumbung Pangan Dunia 2045. YIN