5 September, 2019

Saat ini perkembangan kopi nasional di hilir sangat cepat, sedang dihulu malah menurun. “Beban petani di hulu sangat berat karena produktivitas dan harga yang rendah. Sebagai pelaku bisnis kopi kami tidak tahu statistik produksi dan luas kopi nasional secara persis tetapi di lapangan yang ditemukan adalah produksi turun cukup besar,” kata Samuel Karundeng, Kepala Perkebunan Kopi Rantekarua, PT Sulotco Jaya Abadi (Kapal Api Group).

Sulotco memiliki perkebunan kopi seluas 1.000 ha di Toraja, terbesar ke dua setelah PTPN XII di kawasan Gunung Ijen seluas 5.000 ha. Kebun ini berdiri sesuai amanat pendiri perusahaan bahwa kalau perdagangan sudah maju harus masuk ke hulu.

Visi perusahaan adalah menjadi perkebunan kopi berkelanjutan berbasis lingkungan dan penghasil biji kopi terbaik, bekerjasama dengan petani kopi Indonesia. Sedang misinya adalah menghasilkan dan memperoleh biji kopi yang bermutu tinggi dan disukai oleh berbagai konsumen dunia melalui teknik budidaya organik berkelanjutan, sistem pengolahan kopi yang bernilai tinggi, pembinaan dan pendampingan petani kopi di seluruh Indonesia.

Saat ini Sulotco membina petani kopi di Lampung, Bandung, Temanggung, Jember, Banyuwangi, Malakaji, Makassar, Toraja, Seko. “Pengalaman kami ketika mulai masuk untuk membina adalah petani dalam posisi lemah sehingga tidak punya semangat mengembangkan kopi,” katanya.

Contohnya di suatu daerah. Penyuluh sengaja datang ke Sulotco dan minta masuk ke wilayahnya sebab hampir semua petani mau menebang pohon kopinya akibat harga rendah dan tidak jelas apakah akan dibeli atau tidak.

“Kami datang ke sana memberi motivasi. Kalau tidak ada yang membeli kami siap menampung dengan harga yang wajar. Saat ini kondisi petani sangat berat. Mereka membutuhkan harga layak yang stabil, bukan stabil rendah. Pemerintah diharapkan bisa berperan dalam hal ini,” katanya.

Harga memang diatur oleh mekanisme pasar. Masalahnya adalah produktivitas petani masih rendah sehingga mengikuti pasar mekanisme pasar membuat petani semakin terpuruk. Saat ini hilir berjaya dan tidak ada masalah berapapun harga kopi, sedang petani sebaliknya.

Saat ini ada gambaran karena hilir maju maka hulu ikut maju dengan contoh petani muda yang digambarkan seolah-olah maju. Padahal petani muda kopi ini hanya minoritas dibanding petani kopi yang lain.

“Kalau dibandingkan dari 1000 petani kopi maka yang muda ini hanya 10 dan mereka masuk ke kopi specialty. Mereka yang menonjol. Sedang yang sisanya adalah petani kopi yang menderita dengan posisi harga sekarang,” katanya.

Sulotco selama ini mengekspor kopi dalam bentuk green bean. Pendampingan petani dilakukan supaya prosesnya sama dengan perusahaan dan memenuhi standar ekspor.

“Pengalaman kami masalah petani bisa diselesaikan kalau ada kebersamaan. Kelembagaan petani saat ini antara ada dan tiada, bentuknya juga berbeda-beda tergantung pemdanya. Kalau pemda memberi perhatian kelembagaan bagus, kalau tidak jelek. Tidak ada standar kelembagaan petani yang ideal,” katanya.