Suzuki
26 October, 2018

Gernas kakao yang diselenggarakan selama 3 tahun yaitu 2009-2011 telah menjadi penyelemat kakao Indonesia. “Produksi kakao sekarang yang dikeluhkan kurang justru karena adanya gernas kakao. Kalau gernas kakao tidak ada maka bisa saja kakao Indonesia sekarang tinggal nama,” kata kata Dirjen Perkebunan Bambang, pada peringatan Hari Kakao Indonesia.

Sebenarnya kalau dikelola dengan baik, produktivitas kakao bisa 4-5 ton ha/tahun, asal dipupuk, diberi pengairan, dipangkas dan lain-lain. Masalahnya petani belum bisa melakukan itu sehingga perlu pendampingan. Karena itu produktivitas petani masih 500 kg.

Diakui saat ini data kakao yang dimiliki Ditjenbun yang menyebutkan produksi meningkat dan data industri yang menyebutkan produksi semakin menurun, tidak sama. “Sekarang kita berhenti mempersoalkan data tetapi lebih baik lakukan data ulang. Masing-masing pihak melakukan padu serasi data,” katanya.

Tahun 2018 Ditjenbun mengalokasikan pengembangan kakao seluas 18.000 ha di sentra-sentra produksi. Tetapi terbentur dengan ketersediaan benih sehingga kemungkinan anggaran ini tidak akan terserap.

Ini merupakan tantangan bagi penyedia benih, sebab membibitkan kakao tidak sulit.Dengan program desa mandiri benih maka alumni fakultas pertanian di dorong untuk membuat usaha perbenihan di desa.

Hari kakao selama ini sudah memberi perhatian terhadap industri hilir seperti peningkatan konsumsi kakao. Kalau hilir berkembang sekarang waktunya kembali memberikan perhatian pada hulu/on farm yang masih ada masalah.

Petani harus dibina supaya mampu menghasilkan biji kakao sesuai SNI. Kelembagaan petani diperkuat. Perluasan kakao bisa dilakukan dengan hutan kemasyakatan juga peremajaan karet rakyat.

Selain itu saat ini kebutuhan butter kakao sangat besar, lebih besar dari pada cocoa powder. Stok kakao bubuk yang menumpuk ini bisa dimanfaatkan untuk agroindustri pedesaan dengan diolah menjadi berbagai produk jadi.