22 November, 2019

Jakarta, perkebunannews.com – Benar, bahwa luas perkebunan kelapa sawit rakyat tidaklah kecil atau mencapai sekitar 41 persen dari total perkebunan kelapa sawit yang ada yang mencapai 14,3 juta hektar. Tapi sangat disayangkan saat ini perhatian terhadap petani sangatlah minim.

Hal tersebut diungkapkan Gamal Nasir, Ketua Dewan Pembina Asosiasi Persatuan Petani Sawit Indonesia (POPSI) saat ditemui di ruang Dirjen Perkebunan Kementerian Pertanian.

“Jadi tolonglah jangan lupakan petani. Sebab kontribusi petani tidaklah kecil,” ucap Gamal.

POPSI adalah gabungan asosiasi petani kelapa sawit yang terdiri dari Asosiasi Petani Kelapa Sawit Perkebunan Inti Rakyat (ASPEKPIR) Indonesia, Serikat Petani Kelapa Sawit (SPKS), Sawit Masa Depanku (SAMADE) dan Asosiasi Petani Kelapa Sawit Indonesia (APKASINDO).

Terbukti, Gamal mencontohkan, perusahan yang membatu petani belum maksimal. Sebab seharusnya seluruh petani bisa bermitra dengan perusahaan. Faktanya petani yang bermitra dengan perusahaan belum semua.

Kemudian fakta lainnya yaitu, saat ini petani terkendala dengan peremajaan. Tapi perusahaan masih setengah hati dalam melakukan pembinaan budidaya teknis peremajaan.

Kalau memang perusahaan serius mau membantu petani maka seluruh petani seharusnya bisa bermitra dengan perusahaan. Sebab fakta dilapangan dimana ada kebun petani disitu ada kebun inti atau bahkan pabrik milik perusahaan.

“Jadi perusahaan jangan setengah hati membantu petani,” tegas Gamal.

Disisi lain, Gamal juga menyayangkan dengan sikap Badan Pengelola Dana Perkebunan Kelapa Sawit (BPDP-KS) yang juga tidak sepenuh hati membantu petani. Jadi harus ada ketulusan membantu petani.

Contohnya, perusahaan yang meminta bantuan untuk melakukan suatu acara, langsung dibantu. Tapi jika petani yang meminta susah sekali. Padahal petani melakukan acara juga untuk kemajuan komditas kelapa sawit. “Jadi kalau mau membantu jangan dibeda-bedakan antara perusahaan dengan petani,” saran Gamal.

Kendati demikian, Gamal menyayangkan petani yang juga tidak kompak atau satu suara. Padahal, jika petani satu suara maka pemerintah akan dengan mudah memberikan apa yang harus diberikan kepada petani.

“Jadi petani harus bersatu untuk memperjuangkan kepentingan petani. Tapi ini masing-masing petani punya pendapat dan pendekatan yang berbeda dan sendiri-sendiri,” keluh Gamal.

Contoh, lanjut Gamal ada petani yang mengeluarkan stetmen mengenai Kepres ISPO. Banahi dulu perangkatnya seperti kawasan hutan selesai, sertifikat selesai dan peremajaan selesai baru melakukan sertifikasi ISPO. Jadi bertahap jangan langsung ISPO.

Atas dasar hal tersebut maka Persatuan Organisasi Petani Sawit Indonesia (POPSI), bakal menyuarakan keluh kesahnya dalam Indonesian Palm Oil Smallholders Conference & Expo (IPOSC) 2019.

IPOSC akan diadakan pada tanggal 27-28 November 2019, berlokasi di Hotel Aston, Pontianak, Kalimantan Barat, dengan tema “Penguatan SDM dan Kelembagaan Petani Basis Kesuksesan Petani Sawit, selama dua hari.” Acara tersebut dihadiri 500 petani dan pengurus KUD seluruh Indonesia dan NGO dalam dan luar negeri. YIN